Ingin skali ku tulis kan beberapa kata untukmu, atau beberapa kalimat,
atau mungkin sebait puisi,tapi tidak tidak, sebuah puisi, hmm atau
sebuah tulisan.
Tulisan indah berisi negeri dongeng di ujung negri sana.
Yang isinya tentang rasa cinta seorang putri kerajaan yang sedang
menunggu ksatria yang hendak akan berperang.
Semua seperti ingin ku
rangkum di kertas putih, dengan goresan tinta warna warni seperti warna warni dalam penantian putri kerajaan.
namun entah mengapa tak bisa ku tuliskan itu semua.
Imajinasi ku
terbang melayang bersama perasaan yang penat dan bimbang.
Terlalu banyak
yang ingin ku tumpah kan kepada kertas putih ini. Tentangmu. Tentang
kita. Tentang jalan yang sudah kita tempuh selama ini. Tentang tangguh mu.
Tentang sabarku. Tentang cuekmu. Tentang kebodohan kita. Tent... Ah..
Sudah cukup. Mengingatnya saaja sudah membuat aliran darah ku di pompa
begitu cepat oleh jantungku, sehingga dada ini berdebar dengan cepat.
Aku rasa bukan aliran darah, mungkin jiwa nafasku ini, seperti selalu
tak beraturan jika mengingatmu. Mengingat apapun tentang layar lebar
kehidupan kita bersama dulu.
Ingin rasanya ku tunggu kau seribu tahun lagi, tapi sepertinya kau
tidak mengharapkan itu.
Kau mematahkan semuanya. Iya, seperti kau
mencabut sumbatan bak mandi, seketika air nya tumpah. Padahal kita sudah
bersusah payah mengumpul kan air itu. tidak habis fikir diriku yang
hina ini.
Semua berlalu seperti anak panah yang diluncurkan para indian
indian terdahulu. Sangat cepat. Dan tepat sasaran. Cepat berlalu dan
tepat dihati terlukanya. Mungkin hati ini harus kembali aku restorasi
lagi. Restorasi sebisaku. Tanpa mu.
Aku ingin berdiri. Berdiri tidak tergoyangkan. Tetap pada titik
tumpuanku. Tapi pertanyaannya, dimana harus ku beridiri sekarang?
Sudahlah..
Ku ingat sebuah kutipan, "kehidupan memang hanya tentang kisah meninggalkan dan yang ditinggalkan"
DITINGGAL DAN MENINGGALKAN
Selasa, 17 Maret 2015
Diposting oleh
gina pangeran
di
01.40
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
JATUH CINTA DAN BUNUH DIRI.
Aku
menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berucap.
Ketika
mataku telah lelah dan sayu untuk sekedar berkedip dan melihat.
Ketika
jantung dalam keadaan aritmia yang tidak teratur.
Syukur-syukur
jika kau dapat membaca tulisanku ini malam ini, atau tengah malam ini.
Syukur-syukur
jika kau mau membaca tulisanku yang sederhana ini.
Karena
begitu banyak hal yang kita harus kubur sedalam-dalamnya sekarang. jadi aku harus menulis ini dengan mata yang sedikit berkaca, dan ditemani segelas kopi agar tidur tak menghamiri ku ntuk setiap malam bermimpi tentangmu.
Kita
bukan lagi jantung dan paru-paru yang saling melengkapi fungsi utama pemberi
nutrisi pada organ dijasad manusia-manusia menifestasi Tuhan.
Juga
kita bukan lagi seperti hujan dan anak kecil, yang mereka selalu senang jika
hujan turun, apalagi membasahkan diri dibawah hujan adalah suatu kebahagiaan
tersendiri bagi anak-anak.
Cerita
kita telah PATAH.
Tepatnya
“beberapa kali”. Dan ini adalah kesalahan.
Kesalahan
terbesar yang membiarkan cerita kita patah “beberapa kali”.
Harusnya
cerita kita hanya perlu patah satu kali saja, tidak perlu ada kata “mencoba”
lagi. Maka tidak akan ada kata “beberapa
kali”.
Seharusnya
demikian, harusnya tidakku berikan kesempatan hatiku untuk masuk mencoba
mengukir cerita dan kisah di hati mu yang seperti daun rapuh.
Daun
yang tidak kuat menahan tekanan dari ujung tajam pensil kisah. Yang akhirnya ketika pengukiran, daunnya
begitu cepat belubang dimana-mana.
Bukan
hanya itu, daun disana juga terlalu gampang di bawa oleh angin. Terbang kekiri,
kekanan, bahkan mundur sekalipun. Daunnya tidak bisa untuk mutlak tetap tinggal
di satu ranting pohon.
Namun
tenang saja, ini bukan kesalahan mu sebagai daun-daun yang telah memberi
kesejukan dipohon-pohon kering dalam hati ini. Ini murni kesalahanku. Andai saja
aku sadar bahwa anggapanmu tentangku adalah wanita yang menjadi
penghambat segala kegiatan mu, akademismu, dan lain hal tentang kehidupanmu,
mungkin harusnya kau tau, aku bukan seperti demikian.
Disini
aku berdiri tulus mengenggam segala kelebihanmu, berdiri kuat untuk memeluk
segala kekuranganmu.
Didekatmu
aku duduk manis dibawah pohon menantimu, mendengarkan dengan gembira segala
kisah mu.
Didepanmu
aku selalu tersenyum menatap mu, segala letih teredamkan dengan lesung yang terlukis dipipimu.
Dibelakangmu......
ah.. sudahlah.. tak perlu dilanjutkan.
Perasaan
bukan hanya sekedar kata atau kalimat narasi ini.
Dan
sekarang, disini aku berdiri. Tanpa kau. Disampingku. Didepanku. Dibelakangku. Dan
dihatiku.
Apakah
aku melupakanmu? Tenang, setiap kenangan kita teratur disisi-sisi museum kenangan.
Akan ku pastikan tidak akan ada yang menggesernya hingga ku temukan orang yang
tepat untuk bersama-sama ku ceritakan bagaimana usaha dan perjuanganku untukmu,
dan dia mau menerima ku atas kesalahan ku terhadap mu. Kesalahan yang
menjadikan kita harus mengeluarkan kata “beberapa kali”.
Tenang
saja, aku masih jatuh cinta padamu. Tapi apakau tau? 2015 saat ini mempunyai
cara terbaru untuk bunuh diri. Yaitu dengan jatuh cinta. Karena aku jatuh
terhadapmu, artinya memberikan peluang sebesar-besarnya untuk mu membunuhku. tapi
tidak perlu khawatir, sebelum jatuh aku tlah memakai air bag di sisi tubuh ku,
hingga tidak ada lagi yang dapat membuatku merintih kesakitan karena ulahku
yang menjatuh diri dikehidupanmu. Namun sepertinya, alatku tidak bekerja dengan
baik. Air bagku tak berfungsi karena cinta. karena mu. karena lesung pipimu. karena makna hadirmu. Aku tepat jatuh terkikis oleh tanah dan batu. Hingga
saat ini, aku harus berani untuk secepatnya memperbaharui sel-sel hati untuk
jatuh di tempat yang tepat.
Kalau
dicerita sebelah, katanya diriku seperti kompas orientering yang hilang arah
karenamu, saat ini aku nyatakan diriku layak orang yang bermimpi siang bolong.
Kita
yang begitu sangat sangat terbiasa akan kebersamaan, tiba-tiba kini harus
mengecap rasa jalan bersimpangan.
Pada awalnya, aku merasa mencintaimu adalah sebuah
kewajaran. Lagipula, sebagai leader, kau teramat mudah untuk dicinta. Namun, ketika ruang dan waktu
mempertemukan kita dalam rangkaian-rangkaian peristiwa memalukan (tapi juga
indah), peristiwa yang membuat hati bagai tenggelam didalam lautan luas yag
sepi dan dingin, peristiwa yang membuat pita suara kita bersama berseru saling
memaki, peristiwa yang membuat kita saling melemparkan pandangan mencari orang
lain dimasa lalumu sebagai pelarian, aku mulai ragu. Benarkah mencintaimu sebuah kewajaran?
Lalu bagaimana jika sekarang aku ingin kau menjadi milikku
seutuhnya? Salahkah aku bila terlalu berharap mendapatkan cintamu?
Jika itu memang pertanyaan hatiku, maka akal ku akan
menjawab. Tidak.
Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan
berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa.
Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirimu sepanjang waktu.
Karenamu, aku jadi ingin mengulang waktu.
Dan sekarang aku haru berdiri, menegaskan “beberapa
kali” tidak akan lagi terjadi. Aku percaya, ditempat yang tepat, diwaktu yang
tepat, dengan orang yang tepat. Kepompong ku akan menjadi kupu-kupu indah. Yang
akan terbang ke taman-taman menghiasi bunga-bunga taman dunia. Hingga dunia
ini, duniaku tidak lagi dipenuhi siluet sandiwara ketika bersamamu.
Diposting oleh
gina pangeran
di
01.30
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Komentar (Atom)
