DITINGGAL DAN MENINGGALKAN

Selasa, 17 Maret 2015

Ingin skali ku tulis kan beberapa kata untukmu, atau beberapa kalimat, atau mungkin sebait puisi,tapi tidak tidak, sebuah puisi, hmm atau sebuah tulisan.
Tulisan indah berisi negeri dongeng di ujung negri sana. Yang isinya tentang rasa cinta seorang putri kerajaan yang sedang menunggu ksatria yang hendak akan berperang.
Semua seperti ingin ku rangkum di kertas putih, dengan goresan tinta warna warni seperti warna warni dalam penantian putri kerajaan.
namun entah mengapa tak bisa ku tuliskan itu semua.

Imajinasi ku terbang melayang bersama perasaan yang penat dan bimbang.
Terlalu banyak yang ingin ku tumpah kan kepada kertas putih ini. Tentangmu. Tentang kita. Tentang jalan yang sudah kita tempuh selama ini. Tentang tangguh mu. Tentang sabarku. Tentang cuekmu. Tentang kebodohan kita. Tent... Ah.. Sudah cukup. Mengingatnya saaja sudah membuat aliran darah ku di pompa begitu cepat oleh jantungku, sehingga dada ini berdebar dengan cepat. Aku rasa bukan aliran darah, mungkin jiwa nafasku ini, seperti selalu tak beraturan jika mengingatmu. Mengingat apapun tentang layar lebar kehidupan kita bersama dulu.

Ingin rasanya ku tunggu kau seribu tahun lagi, tapi sepertinya kau tidak mengharapkan itu.

Kau mematahkan semuanya. Iya, seperti kau mencabut sumbatan bak mandi, seketika air nya tumpah. Padahal kita sudah bersusah payah mengumpul kan air itu. tidak habis fikir diriku yang hina ini.
Semua berlalu seperti anak panah yang diluncurkan para indian indian terdahulu. Sangat cepat. Dan tepat sasaran. Cepat berlalu dan tepat dihati terlukanya. Mungkin hati ini harus kembali aku restorasi lagi. Restorasi sebisaku. Tanpa mu.
 

Aku ingin berdiri. Berdiri tidak tergoyangkan. Tetap pada titik tumpuanku. Tapi pertanyaannya, dimana harus ku beridiri sekarang? Sudahlah..
Ku ingat sebuah kutipan, "kehidupan memang hanya tentang kisah meninggalkan dan yang ditinggalkan"

JATUH CINTA DAN BUNUH DIRI.



Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berucap.
Ketika mataku telah lelah dan sayu untuk sekedar berkedip dan melihat.
Ketika jantung dalam keadaan aritmia yang tidak teratur.
Syukur-syukur jika kau dapat membaca tulisanku ini malam ini, atau tengah malam ini.
Syukur-syukur jika kau mau membaca tulisanku yang sederhana ini.
Karena begitu banyak hal yang kita harus kubur sedalam-dalamnya sekarang. jadi aku harus menulis ini dengan mata yang sedikit berkaca, dan ditemani segelas kopi agar tidur tak menghamiri ku ntuk setiap malam bermimpi tentangmu.

Kita bukan lagi jantung dan paru-paru yang saling melengkapi fungsi utama pemberi nutrisi pada organ dijasad manusia-manusia menifestasi Tuhan.
Juga kita bukan lagi seperti hujan dan anak kecil, yang mereka selalu senang jika hujan turun, apalagi membasahkan diri dibawah hujan adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak.

Cerita kita telah PATAH.

Tepatnya “beberapa kali”. Dan ini adalah kesalahan.
Kesalahan terbesar yang membiarkan cerita kita patah “beberapa kali”.
Harusnya cerita kita hanya perlu patah satu kali saja, tidak perlu ada kata “mencoba” lagi. Maka tidak akan ada kata “beberapa kali”.

Seharusnya demikian, harusnya tidakku berikan kesempatan hatiku untuk masuk mencoba mengukir cerita dan kisah di hati mu yang seperti daun rapuh.

Daun yang tidak kuat menahan tekanan dari ujung tajam pensil kisah.  Yang akhirnya ketika pengukiran, daunnya begitu cepat belubang dimana-mana.
Bukan hanya itu, daun disana juga terlalu gampang di bawa oleh angin. Terbang kekiri, kekanan, bahkan mundur sekalipun. Daunnya tidak bisa untuk mutlak tetap tinggal di satu ranting pohon.

Namun tenang saja, ini bukan kesalahan mu sebagai daun-daun yang telah memberi kesejukan dipohon-pohon kering dalam hati ini. Ini murni kesalahanku. Andai saja aku sadar bahwa anggapanmu tentangku adalah wanita yang menjadi penghambat segala kegiatan mu, akademismu, dan lain hal tentang kehidupanmu, mungkin harusnya kau tau, aku bukan seperti demikian.

Disini aku berdiri tulus mengenggam segala kelebihanmu, berdiri kuat untuk memeluk segala kekuranganmu.
Didekatmu aku duduk manis dibawah pohon menantimu, mendengarkan dengan gembira segala kisah mu.
Didepanmu aku selalu tersenyum menatap mu, segala letih teredamkan dengan lesung  yang terlukis dipipimu.
Dibelakangmu...... ah.. sudahlah.. tak perlu dilanjutkan.
Perasaan bukan hanya sekedar kata atau kalimat narasi ini.

Dan sekarang, disini aku berdiri. Tanpa kau. Disampingku. Didepanku. Dibelakangku. Dan dihatiku.
Apakah aku melupakanmu? Tenang, setiap kenangan kita teratur disisi-sisi museum kenangan. Akan ku pastikan tidak akan ada yang menggesernya hingga ku temukan orang yang tepat untuk bersama-sama ku ceritakan bagaimana usaha dan perjuanganku untukmu, dan dia mau menerima ku atas kesalahan ku terhadap mu. Kesalahan yang menjadikan kita harus mengeluarkan kata “beberapa kali”.

Tenang saja, aku masih jatuh cinta padamu. Tapi apakau tau? 2015 saat ini mempunyai cara terbaru untuk bunuh diri. Yaitu dengan jatuh cinta. Karena aku jatuh terhadapmu, artinya memberikan peluang sebesar-besarnya untuk mu membunuhku. tapi tidak perlu khawatir, sebelum jatuh aku tlah memakai air bag di sisi tubuh ku, hingga tidak ada lagi yang dapat membuatku merintih kesakitan karena ulahku yang menjatuh diri dikehidupanmu. Namun sepertinya, alatku tidak bekerja dengan baik. Air bagku tak berfungsi karena cinta. karena mu. karena lesung pipimu. karena makna hadirmu. Aku tepat jatuh terkikis oleh tanah dan batu. Hingga saat ini, aku harus berani untuk secepatnya memperbaharui sel-sel hati untuk jatuh di tempat yang tepat.

Kalau dicerita sebelah, katanya diriku seperti kompas orientering yang hilang arah karenamu, saat ini aku nyatakan diriku layak orang yang bermimpi siang bolong.
Kita yang begitu sangat sangat terbiasa akan kebersamaan, tiba-tiba kini harus mengecap rasa jalan bersimpangan.
Pada awalnya, aku merasa mencintaimu adalah sebuah kewajaran. Lagipula, sebagai leader, kau teramat mudah untuk dicinta. Namun, ketika ruang dan waktu mempertemukan kita dalam rangkaian-rangkaian peristiwa memalukan (tapi juga indah), peristiwa yang membuat hati bagai tenggelam didalam lautan luas yag sepi dan dingin, peristiwa yang membuat pita suara kita bersama berseru saling memaki, peristiwa yang membuat kita saling melemparkan pandangan mencari orang lain dimasa lalumu sebagai pelarian, aku mulai ragu. Benarkah mencintaimu sebuah kewajaran? Lalu bagaimana jika sekarang aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya? Salahkah aku bila terlalu berharap mendapatkan cintamu?
Jika itu memang pertanyaan hatiku, maka akal ku akan menjawab. Tidak.
Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirimu sepanjang waktu. Karenamu, aku jadi ingin mengulang waktu.
Dan sekarang aku haru berdiri, menegaskan “beberapa kali” tidak akan lagi terjadi. Aku percaya, ditempat yang tepat, diwaktu yang tepat, dengan orang yang tepat. Kepompong ku akan menjadi kupu-kupu indah. Yang akan terbang ke taman-taman menghiasi bunga-bunga taman dunia. Hingga dunia ini, duniaku tidak lagi dipenuhi siluet sandiwara ketika bersamamu.