Kita tidak perlu mengisi hidup orang lain bila ia memang tidak mau diisi, mungkin hatinya sudah penuh. Kita dengan sendirinya akan mengisi hidup orang-orang yang masih kosong. Dengan kita menjadi orang baik, dengan kita berbuat baik, dengan kita berlaku yang santun, menjadi orang yang ikhlas, dengan sendirinya orang lain akan menempatkan kita dalam posisi-posisi tertentu dalam hidupnya. Diberikan ruang dalam hatinya tanpa kita minta.
Kita cukup menjadi orang yang peduli, orang yang melakukan sesuatu tanpa mengharap sesuatu dari orang lain. Kita menjadi orang yang tulus. Tidak masalah dengan penolakan. Karena memang akan selalu ada orang yang tidak bisa menerima kita hadir dalam hidupnya karena alasan tertentu yang kita tidak tahu, tapi itu bukan sesuatu yang perlu kita salahkan.
Kita cukup terus berjalan, dan terus berbuat baik. Karena nanti, akan ada orang yang memberikan kita ruang yang sangat besar dalam hidupnya, ruang yang paling luas dan paling rahasia. Orang itu adalah orang yang nantinya menjadi rumah dimana tempat kita pulang dan tinggal. Karena ia menjadi orang yang paling bisa menerima kita saat kita pulang, seburuk apapun diri kita. Karena dalam ruang hatinya itu, kita menyimpan rahasia-rahasia terbesar dan dia bersedia menyimpan semua itu.
RUANG HATI
Minggu, 31 Mei 2015
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.31
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Semoga Tidak Kamu Lagi
Minggu, 17 Mei 2015
Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia, bukan karna aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu.
Itu menyakitkan. Seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk. Supaya aku dapat melihat Tuhan memakaikan kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan. Sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.
Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu, mengelilingi tubuhku, dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku.
Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, yaitu karena aku mampu terima kamu apa adanya.
Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tidak lagi menginjak bumi. Sebab hidup terasa bagaikan dinding yang dingin.
Aku harus menjadi paku. Kamu yang bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku, dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.
*dikutip dari Buku "dear zarry's"
Diposting oleh
gina pangeran
di
02.05
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
hati-hati dengan harapan!
Sabtu, 16 Mei 2015
Hati hati dengan harapan.
Hati hati dengan perasaan berharap.
Apalagi perasaan menyimpan harapan.
Karena tidak semua harapan akan selurus dengan kenyataan.
Karena tidak semua harapan akan memberi kebenaran realita.
Karena tidak semua harapan akan selalu tercapai faktanya.
Kadang, hidup kita harus hancur, harus terbuang, harus terperangkap dan harus tenggelam di dasar lautan luas yang tak berpenghuni.
Kadang, perasaan kita harus pecah, harus dibangun, kemudian harus dipecahkan lagi.
Semua karena, menyimpan harapan.
Maka, hati hati untuk menyimpan harapan.
Apalagi harapan terlalu tinggi.
Dengan ketinggian sedang saja, sakit nya tiada ampun dan tiada obatnya jika jatuh.
Apalagi terlalu tinggi?
Namun, jika harapan mu sudah sepertiku, terlanjur ada,
Sudah terlanjur tinggi,
Sudah terlanjur jatuh,
Dan sudah terlanjur membuat perasaan, tubuh, dan jiwamu hancur.
Maka berhati-hati lah.
Jangan menyimpan harapan lagi.
Kata sakit hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata patah hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata bersedih tidak akan ada, jika harapan juga tidak ada.
Karena bersedih,sakit hati, atau pun patah hati itu tidak mgkn akan ada obatnya.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah datang.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah memenuhi harapanmu.
Yang kau harapkan pun tidak pernah akan buat mu tersenyum.
Kau hanya membuang waktu mu untuk berharap.
apa yang kau nantikan agar sedih, patah, dan sakit menghilang?
Kecuali dia.
Namun, tidak mungkin. Cuma harapankan?
Maka, realtiskan pikiranmu. Buang jauh harapnmu.
Hanya itu satu satu nya jalan.
Apa? Kau sesak napas?
Apa? Jantung mu berdetak kencang?
Apa? Air matamu jatuh?
Itu hanya komplikasi jika terlalu tinggi harapanmu.
Seka air matamu, bernapaslah dengan perlahan, dan irama jantungmu akan reguler.
Maka, perlahan rendahkan harapanmu.
Jika telah rendah, perlahan tarulah ia ke tanah.
Tanam, kemudian kubur dalam-dalam.
Tidak akan ada apa apa jika kau kubur saat ini, hanya sekali saja sakitnya.
Setidaknya, sakitnya tidak berkepanjangan lagi.
Putuskan lah hari baru untuk hati yang baru.
Hati yang membuatmu bisa memperlakukan mu selayaknya "berhati".
Hati yang membuatmu tidak perlu sesak, tidak perlu menjatuhkan air mata, apalgi detak jantung yg membuat dada menjadi sakit. Yang dapat membagi waktunya untukmu walaupun di tengah kesibukannya. Yang dengan tegas dan bangga menggandeng mu didepan semua orang. Dan membuat semua orang cemburu akan hubungan mu.
Setelah ia datang,
Maka ucapkan terima kasih.
Atas nyawa baru.
Atas nafas baru.
Dan atas hidup yang baru.
Dan ingat, apapun, berhati-hati lah.
Hati hati dengan perasaan berharap.
Apalagi perasaan menyimpan harapan.
Karena tidak semua harapan akan selurus dengan kenyataan.
Karena tidak semua harapan akan memberi kebenaran realita.
Karena tidak semua harapan akan selalu tercapai faktanya.
Kadang, hidup kita harus hancur, harus terbuang, harus terperangkap dan harus tenggelam di dasar lautan luas yang tak berpenghuni.
Kadang, perasaan kita harus pecah, harus dibangun, kemudian harus dipecahkan lagi.
Semua karena, menyimpan harapan.
Maka, hati hati untuk menyimpan harapan.
Apalagi harapan terlalu tinggi.
Dengan ketinggian sedang saja, sakit nya tiada ampun dan tiada obatnya jika jatuh.
Apalagi terlalu tinggi?
Namun, jika harapan mu sudah sepertiku, terlanjur ada,
Sudah terlanjur tinggi,
Sudah terlanjur jatuh,
Dan sudah terlanjur membuat perasaan, tubuh, dan jiwamu hancur.
Maka berhati-hati lah.
Jangan menyimpan harapan lagi.
Kata sakit hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata patah hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata bersedih tidak akan ada, jika harapan juga tidak ada.
Karena bersedih,sakit hati, atau pun patah hati itu tidak mgkn akan ada obatnya.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah datang.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah memenuhi harapanmu.
Yang kau harapkan pun tidak pernah akan buat mu tersenyum.
Kau hanya membuang waktu mu untuk berharap.
apa yang kau nantikan agar sedih, patah, dan sakit menghilang?
Kecuali dia.
Namun, tidak mungkin. Cuma harapankan?
Maka, realtiskan pikiranmu. Buang jauh harapnmu.
Hanya itu satu satu nya jalan.
Apa? Kau sesak napas?
Apa? Jantung mu berdetak kencang?
Apa? Air matamu jatuh?
Itu hanya komplikasi jika terlalu tinggi harapanmu.
Seka air matamu, bernapaslah dengan perlahan, dan irama jantungmu akan reguler.
Maka, perlahan rendahkan harapanmu.
Jika telah rendah, perlahan tarulah ia ke tanah.
Tanam, kemudian kubur dalam-dalam.
Tidak akan ada apa apa jika kau kubur saat ini, hanya sekali saja sakitnya.
Setidaknya, sakitnya tidak berkepanjangan lagi.
Putuskan lah hari baru untuk hati yang baru.
Hati yang membuatmu bisa memperlakukan mu selayaknya "berhati".
Hati yang membuatmu tidak perlu sesak, tidak perlu menjatuhkan air mata, apalgi detak jantung yg membuat dada menjadi sakit. Yang dapat membagi waktunya untukmu walaupun di tengah kesibukannya. Yang dengan tegas dan bangga menggandeng mu didepan semua orang. Dan membuat semua orang cemburu akan hubungan mu.
Setelah ia datang,
Maka ucapkan terima kasih.
Atas nyawa baru.
Atas nafas baru.
Dan atas hidup yang baru.
Dan ingat, apapun, berhati-hati lah.
Diposting oleh
gina pangeran
di
02.46
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
MEWUJUDKANMU
Sabtu, 09 Mei 2015
Ternyata, mewujudkanmu tidak semudah apa yang aku sangka selama ini.
Tidak semudah apa yang aku pikirkan.
Bahkan dengan usahaku yang demikian, sampai saat ini kamu belum bisa aku wujudkan.
Harus jatuh berdebam, harus tertolak, harus kembali menata hati yang berantakan, perasaan yang tak terdefinisi, harus memahami ulang definisi tentang kamu.
Bahwa kamu ternyata tidak bermakna “kamu” sebagaimana aku pahami selama ini.
Bahwa kamu ternyata tidak bermakna “kamu” sebagaimana aku pahami selama ini.
Ada banyak kemungkinan tentang siapa kamu bagi Tuhan, sesuatu yang dirahasiakan dan tidak pernah aku mendapat bocoran.
Mewujudkanmu ternyata benar-benar menguras perasaan.
Mewujudkanmu ternyata benar-benar menguras perasaan.
Perjalanan ke sana membuatku harus patah berkali-kali, harus membangun kembali apa sesuatu yang baru,
harus mengenali kembali definisi-definisi baru dalam hidup ini; kamu, menunggu, yang terbaik, dan banyak kata-kata lain yang seolah-olah berubah makna setiap kali aku menemui peristiwa.
Mewujudkanmu kali ini menjadi lebih pasrah, lebih berserah, bahwa aku sungguh benar-benar mengakui bahwa aku tidak benar-benar tahu yang terbaik untuk diriku sendiri.
Mewujudkanmu kali ini menjadi lebih pasrah, lebih berserah, bahwa aku sungguh benar-benar mengakui bahwa aku tidak benar-benar tahu yang terbaik untuk diriku sendiri.
Aku hanya bisa mengusahakan yang terbaik, tapi tidak tahu tentang yang terbaik.
Mewujudkanmu kali ini lebih berserah, berserah tentang definisi kamu yang kini aku tidak tahu.
Mewujudkanmu kali ini lebih berserah, berserah tentang definisi kamu yang kini aku tidak tahu.
Tentang kamu yang tidak pernah aku sangka, kamu yang tidak pernah aku kira, kukira demikian yang akan terjadi.
Hari ini, aku akan menenggelamkan diri dalam tujuanku.
Hari ini, aku akan menenggelamkan diri dalam tujuanku.
Karena, aku masih percaya bahwa tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.
entu bila yang dimaksud dengan kamu sedang menuju tujuan yang sama, kita akan bertemu. Itu keniscayaan.
(MASGUN, RUMAH, 6 FEB 2015)
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.20
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
KAU
Jumat, 08 Mei 2015
dear kau,
kau tau?
Beberapa hari dalam dekade ini nafasku sesak.
Tapi jangan salah, ini bukan karena penyakit pada paru-paru,
Atau penyakit karena perselubungan homogen jika dilihat
dengan rontgen dada.
Tidak sama sekali.
Melainkan karena kekurangan oksigen.
Kau tau kenapa?
Karena oksigen untuk hidup nafasku pun akan ku bagi dua
dengan mu.
Karena oksigen lebih baik menghidupkan mu, daripada
menghidupkan ku.
Juga kau harus tau,
Betapa ku nikmatinya merindu mu.
Bagaikan ku nikmati bau hujan rintik yang menetes
dijalan-jalan
Bagaikan ku nikmati bahagia berbagi makanan bersama dengan
mereka yang tak mampu.
Bagaikan menikmati dekapan angina sepoi yang bisa
menyejukkan hati, kepala, juga raga.
Dirimu semacam kolase kata indah yang sudah lama ku cari.
Yang mungkin dulu bersemayam dilekung langit.
Jika aku nanti menemukan ‘kau’,
Terima kasih,
Bukan karena materi atau beberapa ratus lembar halaman yang
kau bagikan kepadaku,
Tapi atas nyawa,
Yang kau titipkan disela-sela katamu, disela-sela kita.
Lewatnya,
Ada nafas baru,
Dari pedihnya luka cinta masa lalu.
Ternyata benar, jangan berani berpijak di sesuatu yang
retak.
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.02
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Komentar (Atom)
