"So, Me" Generation

Rabu, 01 November 2017

Iseng mencari data tentang Generasi Milenial dan Generasi Z saat ini, saya mendapat satu artikel menarik. Artikelnya sudah agak lama dituliskan, sekitar 2 tahun lalu. Artikel diangkat dari Majalah Time, dengan judul “Me Me Me Generation; Millennials are lazy, entitled narcissists who still live with their parents”. Membaca judulnya saja membuat saya tersenyum tipis, dan agak tersindir. Membahas tentang generasi milenial sebenarnya tidak terlalu penting dibanding dengan membahas fakta bahwa ternyata kasus Pernikahan Dini masih mempunyai angka yang cukup tinggi, fakta bahwa ternyata hak asasi fundamental sebagai seorang manusia tidak juga dapat ditegakkan adil walau dalam negara bersistem demokrasi, dan isu isu lainnya. Hanya saja, ketika majalah sebesar Time telah menjadikan isu Generasi Milenial ini menjadi highlight berita, menandakan isu ini harus menjadi perhatian khusus.

Untuk kalian yang belum tau, apa generasi milenial itu, maka saya akan memberitahukan bahwa generasi milenial adalah saya, dan sebaya saya yang lahir dari kisaran tahun 1980-2000. Sebelum generasi ini, ada juga generasi Echo Boomers, generasi Boomerang, dan lainnya. Namun, karena generasi milenial adalah generasi dengan usia produktif, maka saya tertarik untuk mengulas sedikit isu ini.

Isu ini untuk semua para remaja ‘kekinian’ hingga mereka yang sekarang sibuk merencanakan pernikahan diusia 20 tahunan. DIlansir bahwa mereka ini adalah generasi yang kebutuhan dalam ilmu ekonominya adalah membutuhkan 4 kebutuhan yang pokok: SANDANG, PANGAN, COLOKAN dan INTERNET.

Menurut Time, setiap generasi Milenial pasti berbeda-beda karakternya disetiap negara-negara didunia. Namun, globalisasi, social media, perubahan yang tengah terjadi bak membuka keran air, mengalirkan informasi dengan Western sebagai kiblat. Membuat Generasi Milenial diberbagai negara memiliki definisi yang hampir sama. Bahkan negara seperti Cina, dimana sejarah dan budaya bangsa adalah hal utama untuk menjadi kiblat masyarakatnya; internet, urbanisasi, dan globalisasi telah membuat generasinya menjadi generasi overconfident atau generasi yang mempunyai tingkat kepercayaan diri sangat tinggi dan egois seperti generasi pada kiblatnya.

Masalah tersebut bukan hanya untuk mereka yang memiliki finansial yang tinggi saja, bahkan untuk mereka yang mempunya finansial rendah juga memiliki masalah yang sama. Yaitu masalah tingginya angka generasi milenial dengan masalah NARSISTIK, MATREALISTIK, dan KETERGANTUNGAN akan TEKNOLOGI, dan untuk satu tujuan semata; memperlihatkan kepada dunia maya dan kepada orang lain tentang kehidupan mereka yang Fabulous atau kata lain kehidupan yang menakjubkan. 

Generasi ini adalah mereka yang menjadi subjek, menjadi manager, menjadi artis, juga menjadi kepala didunia jagat-maya saat ini. Mereka adalah penguasa media social, mereka dapat menjadi penyedia kontennya, menjadi kritikus tanpa data akurat, penonton yang diam, juga consumer sejati. Sebutan kerennya sih, Netizen.
Dalam data yang saya peroleh dari penelitian Research Now dengan judul “The ‘So, Me?’ Generation”, menyebutkan bahwa angka hampir 40% dari generasi saat ini menggunakan media social lebih dari 11 jam sehari. Dan mengklaim bahwa teman media social mereka yang biasa dikenal dengan ‘Followers’ mempunyai angka 40% lebih penting dari pada generasi lainnya yang mempunyai angka 23% saja. Hingga penelitian menyebutkan jika mereka mempunyai Phobia tersendiri, yaitu Nomophobia. Yaitu keadaan dimana takut berpisah jauh dari devices mereka, jaringan, dan sumber listrik. Data lainnya juga menyebutkan 80% generasi ini hanya membuka media social ketika memakai jaringan internet. Mereka adalah golongan yang percaya internet sama pentingnya dengan makanan dan air sehingga hampir seluruh dari mereka tidur bersama ponsel di sisinya.

Terdapat hampir 60% generasi ini yang terkena Gangguan Narsistik Diri berdasarkan data dari National Institute of Health. Selain itu, National Study of Youth and Religion juga memaparkan data bahwa 60% dari mereka merasa bahwa setiap yang mereka pikirkan adalah bersifat kebenaran. Karena mereka memandang diri mereka, adalah orang-orang yang supel, open-minded, cerdas, bertanggung jawab, peduli, mandiri, kreatif, dan antusias. (ya, lagi-lagi Narsistik).

Mereka memiliki keterlibatan masyarakat yang kurang dan partisipasi politik yang lebih rendah daripada kelompok sebelumnya. Dan paling penting adalah generasi ini adalah pemuja ketenaran. Berdasarkan dari sebuah survey di Time, banyak remaja di US memiliki keinginan untuk bekerja sebagai asisten pribadi seorang tokoh terkenal atau memiliki pekerjaan yang memiliki potensi dikenal banyak orang. Dan inilah alasan banyak generasi saat ini yang lebih memfokuskan diri mengumpulkan banyak followers di media social mereka, salah satu cranya adalah dengan membeli akun followers yang biasa dijual oleh cyber-crime. Kalian harus tau, dalam data yang dilampirkan Indonesian Institute dalam Indonesia Update, terdapat 800.000 akun yang menjadi cyber-crime, juga didalamnya dijual untuk mendapatkan atau dijadikan followers. Membuat Indonesia juga darurat Cyber Crime.

Bisa membayangkan apa efek jika generasi ini berkomunikasi lebih banyak melalui layar devices mereka. Mereka dapat duduk disebuah café, dengan kursi yang berseblahan, tetapi jari mereka mengetik sesuatu dilayar devices mereka masing-masing. Mereka mungkin terlihat tenang dan biasa saja, tetapi sebenarnya mereka sangat cemas akan kehilangan followers atau melewatkan sesuatu yang menarik. Yap sebut saja kekinian. Visi mereka harus kekinian. Dengan data bahwa 70% mereka mengecek handphone mereka setiap jam, dan sebagian mereka mengalami sindrom getaran HP pada pocket nya. Menjadikan handphone adalah sebuah adiksi untuk mereka. Padahal, akibat adiksi ini mebuat lama-kelamaan kreativitas seseorang bisa menjadi semakin TUMPUL. Diketahui, angka kreativitas generasi Millennials semakin rendah sejak tahun 1998. Hal ini disebutkan Larry Rosen, seorang psikolog dari California State University at Dominguez Hills.

Masalah lain yang hanya mereka mengerti adalah bagaimana membuat diri mereka, fisik mereka, kehidupan mereka, bahkan setiap lekuk tubuh mereka menjadi sebuah ‘brand’, untuk para teman dan followers sebagai ‘consumernya’. Ketika banyak yang ‘terjual’, maka semakin tinggi lagi kepercayaan diri yang mereka punya, semakin tinggi pula angka narsistik yang mereka punya.

Generasi saat ini juga tumbuh dilingkungan para selebrity yang mendokumentasikan kehidupannya secara langsung untuk para penggemarnya. Maka dari itu kita mudah mendapatkan riwayat dokumentasi mereka pula bak selebrity-selebrity yang ada. Dan jika mereka telah melakukan hal tersebut di Intagram, Youtube dan Twitter dengan baik dengan tolak ukur memperoleh banyak ‘like’, maka jadilah mereka merasa seperti seorang Microselebity.

Dunia yang global dan kompetitif saat ini menuntut masyarakat untuk bersaing dan menjadi yang terbaik. Dan mereka percaya bahwa penghargaan diri dan kepercayaan diri mereka adalah modal mereka untuk bersaing. Padahal, dengan mencoba meningkatkan nilai penghargaan diri, mereka secara tidak sadar juga meningkatkan nilai-nilai narsisistik di dalam diri.
Ketika orang-orang mendaki gunung untuk tujuan melihat dunia secara luas, mereka justru berusaha mendaki gunung tertinggi supaya dapat dilihat oleh dunia, untuk menjadi pusat perhatian. Namun saat mereka sudah dipuncak gunung yang tinggi tersebut, penghargaan dunia tidak sebanding dengan apa yang mereka harapkan, mereka masuk dalam kekecewaan, putus asa, dan perasaan gagal. Maka jangan heran jika angka depresi pada generasi ini begitu tinggi. Sampai-sampai WHO menjadikan Depresi adalah titik focus untuk hari Kesehatan Mental International dalam dua tahun berturut-turut


Sempat saya singgung diatas ketika mereka menjadikan dirinya sebagai ‘brand’ dimedia social, maka angka narsisistik juga meningkat. Tidak heran, istilah selfie pun muncul dipermukaan. Selfie Stick atau Tongsis bertebaran dimana-mana bak kebutuhan sekunder setelah primer mereka yaitu smartphone telah tercukupi. Hari ini, adalah keadaan dimana seorang yang berumur 1 hari memiliki foto dirinya lebih banyak dibanding para pahlwana atau terkenal di abad ke-19.

Sekali lagi, followers yaitu dengan arti ‘Pengikut’ pada media social membuat mereka merasa seperti Tuan dan followers adalah pengikutnya atau konsumennya. Mereka berusaha keras mendapatkan penerimaan dari banyak orang melalui sosial media sehingga fokus pandang mereka adalah diri sendiri sebagai brand. Hingga mereka terlahir menjadi generasi yang mempunyai angka yang rendah unuk memahami sudut pandang orang lain. Membuat mereka menjadi manusia egois. Kemampuan empati mereka akan kehidupan socialpun menurun sejak tahun 2000an akibat semakin berkurangnya interaksi tatap muka dan semakin parahnya derajat narsisistik.

Seorang English professor di Emory, yang juga seorang penulis The Dumbest Generation: How the Digital Age Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future. Menuliskan bahwa terdapat peer pressure dalam generasi ini. Peer preasure adalah tekanan teman sebaya. Tekanan teman sebaya ini adalah tekanan yang anti-sosial, anti-intelektual. Tekanan ini mereka dapatkan dikarenakan aktivitas dialog mereka lebih banyak dengan teman sebayanya melalui media social mereka, daripada dialog mereka dengan para orangtua mereka sendiri. Atau dialog dengan orang yang lebih tua dibanding mereka.  Padahal, untuk bisa mencapai kedewasaan dalam hal intelektual, seseorang harus sering berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua usianya. Akibat peer pressure ini, generasi Millennials lebih terlambat mencapai kedewasaan.

Keadaan ini adalah keadaan berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya, disaat teknologi IT masih terbatas dan koneksinya masih begitu susah didapatkan, sehingga generasi dahulu lebih banyak diskusi, dialog, interaksi, dan belajar dengan orang yang lebih tua dari mereka.

Beberapa paparan diatas membuat saya penasaran tentang angka kebahagiaan generasi Millennials ini. Saya rasa, jika generasi ini menjadi yang mempunyai tingkat bahagia yang rendah, hal tersebut adalah kewajaran. Dikarenakan masa pencitraan saat ini melalui media begitu kuat adanya, menawarkan tingkat depresi yang tinggi, frustasi yang meningkat. Juga menawarkan generasi yang jauh akan nilai budaya yang ada.
Genereasi ini mulai membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain yang sudah dicitrakan puluhan kali lebih baik dari yang sebenarnya. Inilah titik pentingnya organisasi budaya bukan hanya menawarkan budaya tangible, tetapi juga budaya intangible seperti budaya berperilaku, budaya ‘malu’, budaya gotong royong, kerja sama, dan lainnya.

Titik akhirnya, generasi Millennials kali ini dihadapkan denga kenyataan keberadaan generasi setelahnya, yaitu Generasi Z. Dan kedua generasi ini bukanlah generasi yang anomaly, bukan sepsis baru, ataupun hasil mutasi genetic alien dengan manusia. Generasi ini adalah akibat dari sebab oleh generasi sebelumnya.


Jika dahulu manusia berdadaptasi kemudian bertahan hidup dengan mencari sumber bumi di gua-gua, makaha tersebut diatas adalah cara generasi ini untuk bertahan hidup dimasanya. Dengan mengkakses informasi adalah sebuah keharusan untuk para Millennilas. Sehingga muncul istilah bahwa Informasi adalah hal termahal hari ini. Seorang penulis mengatakan, ada banyak pribadi unggul di muka bumi, tetapi tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Untuk itulah akses terhadap informasi menjadi pembedanya, mana orang-orang yang akan melesat jauh ke depan, mana yang akan tertinggal di belakang. Informasi atau mati, mungkin itu semboyan hidup saat ini.

Compulsive Lying Disorder

Rabu, 11 Oktober 2017

Mengutak-atik pembicaraan persoalan tentang kesehatan mental, dihari kesehatan mental dunia yang berlangsung mulai dari kemarin, hari ini, dan besok hari, maka literatur akan memberikan beberapa referensi seputar skizofrenia, bipolar, cemas atau anxietas disorder, dan lain sebagainya. Tidak banyak literatur menyebutkan atau bahkan mungkin lupa bahwa berbohong, juga masuk didalamnya, berbohong dan kesehatan mental.

Saya bukan psikolog tentu saja, bukan juga psikiater, cuma seorang dokter muda yang sudah lewat stase Jiwa dan mencoba ber ala-ala menjadi seorang dengan keilmuan psikolog. Apa yang akan saya tulis? Ini adalah tentag Compulsive Lying Disorder. Sebuah kebiasaan, bentuk, dan seperti tengah membudaya dikalangan pemuda pemudi saat ini.

People now days are people in social media era, which are humans get widely chances to know other people without meet them in real life. To tell what is on ur mind or ur feeling without know them well. Sadar atau tidak, that’s the way to open people to make ‘LIE’. Basic example when we were laughed in our text, yet in real life we did’t event had a smile from our lips.

Media sosial kali ini seperti memberi warna baru pada kehidupan umat manusia dimuka bumi. Kalau kata Yasraf Amir Piliang (YAP), beliau dengan tegas mengklaim kematian realitas dan memproklamasikan tentang lahirnya postrealitas. Karakteristik kuat dari posrealitas adalah leburnya dikotomi antara dunia material dan immaterial di mana realitas alamiah dan realitas artifisial berbaur dan tumpang-tindih. Pada kondisi ini, fiksi ditampilkan seolah-olah sebagai fakta sementara fakta terjebak sebagai fiksi. Yap, people now days, mempunyai kesempatan terbuka untuk mengenal orang lain tanpa harus melihat ontologis atau keberadaan secara nyata orang tersebut. Bebas mengungkapkan pendapat secara luas dan terbuka tanpa perlu memikirkan hak-hak milik orang lain.
Disadari atau tidak, hal-hal ini menjadi sebuah landasan awal kebohongan tercipta.
Mau contoh kecil? Ketika, kita tertawa-tawa di pesan yang kita ketik, nyatanya wajah kita adalah wajah datar. Kita mengetik “I love you”, padahal kenyataannya sedang bermesraan dengan lainnya.  Menyedihkan bukan? Yap. Tapi bukan kebohongan remeh seperti ini yang akan saya bahas. Hal didalam ini lebih kompleks dan holistik. 

Kaliah tau? Didunia kesehatan mental juga mengenal Compulsive lying disorder. Keadaan ini merupakan bentuk ketidakmampuan seseorang untuk menampilkan diri atau sisi murni dari dirinya sendiri. Berawal dari kebohongan kecil, kemudian berlanjut menjadi kebiasaan dan terbentuklah zona nyaman dengan tameng yang mereka bangun untuk menutupi kekurang percayaan terhadap diri sendiri (poor self esteem). Dalam posrealitas, citra telah menjadi sebuah nilai yang mengonstruksi realitas dan mendefinisikan eksistensi. Yang menarik adalah ketika citra bukanlah sebuah entitas yang statis dan sederhana. Kompleksitas citra meningkat dengan pesat akibat pembiakan tanpa batas,  melalui media-media teknologis yang semakin mudah diakses oleh siapa saja.

Compulsive lying disorder tidak memiliki pravelensi terbanyak kepada laki-laki ataupun perempuan. Keduanya memiliki kesempatan yang sama menjadi korban. Tetapi katanya, faktor keluarga adalah pemicu banyaknya kasus ini didunia psikologi.

Berbohong, berarti menutupi hal yang sebenaryna. Berbohong, berarti tidak menerima kenyataan. Berbohong, berarti tidak mampu menerima diri apa adanya. Berbohong, berarti ihendak membangun citra agar dapat diakui dengan membentuk ideal image sesuai yang diharapkan. Berbohong, berarti membuang kepercayaan sekitar yang diberikan kepadanya. Berbohong, berarti menutupi satu fakta dengan satu kebohongan, dan menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya. Berbohong, berarti menggadaikan kepercayaan sekitar, demi tercapainya tujuan pribadinya. 

Everyone lies from time to time..
.. but for a compulsive liar, telling lies is routine. It becomes a habit – a way of life. – 
(Anonymous)  

Ulasan diatas memang tidak cukup untuk membuat kalian menyadari riwayat kebohongan kalian. Maka, mulailah dari sekarang untuk membuat catatan kecil dalam otak kalian tentang kebohongan apa yang pernah kalian lakukan, dan coba perbaiki dengan mulai membiasakan jujur dari hal yang paling kecil. Misalnya? mulai jujur dan menerima fakta bahwa lemak diperut masih saja bertumpuk, atau mengakui kalau kita tidak secantik Taylor Swift.

Kita harus menyadari bahwa berbohong harus dihilangkan dari hal hal terkecil, jika hal kecil saja kita kita berbohong, bagaimana dengan hal besar? Jika keluargamu saja kau bohongi, apalagi yang hanya teman? Jika janji dari mulutmu sendiri saja kau bohongi dan ingkari, bagaimana dengan pesan text yang selaam ini kau kirim? dimana letak kebenarannya?
Kebohongan yang hanya bersifat kecil dan mendesak, pada akhirnya akan menjadi sebuah kebohongan yang bersifat budaya dan habitual. Hingga akhrinya, tidak heran jika berbohong, juga menjadi pekerjaan pada jaman sekarang ini.
Yep, bekerja sebagai pembohong. Mau saya beri contoh? Okelah. Pernahkan kalian mendapatkan undian berhadiah, dan kemudian contact personnya meminta pajak untuk hadiah tersebut? Atau tiba-tiba telepon yang meminta bayaran terhadap kerabat yang tengah masuk rumah sakit? Tersebut hanya contoh kecil dimana kebohongan menjadi sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak terhitung berapa banyak tindak kriminal di bidang bohong berbohong, baik yang dikemas secara jahat ataupun dikemas secara kekeluargaan dan percintaan. Ah.. People these days. 

Maka, banyaklah bersyukur jika kita menjadi pihak yang dibohongi, bukan yang membohongi. Karena kita masih masuk dalam kelompok orang yang jauh akan gangguan Compulsive Lying Disorder. Kita tidak tau bahwa bagaimana sulitnya orang untuk menerima dan membangun kepercayaan lagi ketika mereka telah dibohongi. Bahkan, ada yang merasa bahwa berbohong adalah sebuah hal yang enteng dan sepele. Bahkan mereka tidak merasa bersalah akan kebohongn tersebut. Seakan-akan berbohong adalah budaya anak muda jaman sekarang. Bahkan ada dimana seseorang merasa bawa kebohongan tidak menjadi beban moral bagi pelakunya. Hm, how come?
Pada akhrinya, pemahaman agama menjadi titik balik segalanya. Semua agama dibumi, tidak pernah mengindahkan berbohong sebagai perilaku yang terpuji. Maka, pemahaman agama yang diajarkan oleh madrasah awal, yaitu keluarga, menjadi titik balik pegangan manusia hari ini. Pegangan bahwa berbohong merupakan perbuatan tercela dan jauh dari kasih sayang Tuhan. Pegangan bahwa ternyata ada dunia dimana akan dimintai pertanggung jawaban atas apa saja yang sudah kita lakukan didunia.

Untuk kita atau kalian yang pernah dibohongi, berbesar hatilah. Hati yang berkualitas adalah mereka yang mampu memaafkan. Tapi satu hal, berlian yang berkualitas tidak akan sebanding dengan metal dijalanan. Mari lebih teliti lagi, dan mulai menjadi dewasa dengan meninggalkan segala yang membuat kita jauh dari nilai agama-budaya yang kita punya. Ingatlah, diri kalian yang sederhanajauh lebih sangat bernilai dan berharga dari pada diri mereka yang dibangun begitu superior dengan kebohongan-kebohongan.
And finally, the most dangerous liars are those who think they are telling the truth. Are u? ☺

Karena dengan merasakan sakit, menjadi penanda bahwa dirimu masih hidup.

Selasa, 16 Agustus 2016

Saya sih bukan tipe penyuka drama korea, apalagi sampai hanyut meng-idolakan para pemainnya. Tetapi, tadi iseng-iseng nonton salah satu drama korea. Ternyata saya baru sadar (entah penyadaran saya ini terlambat atau hanya saya yang merasakannya) bahwa dalam drama ini bukan hanya soal wajah tampan si aktor atau tubuh seksi si aktris, tetapi.... Banyak makna hidup disana, disetiap kalimat dalam dialog membuat banyak pelajaran dan bahan refleksi diri.

Contohnya saja salah satu drama yang saya tonton hari ini (yang tentunya membuang waktu saya begitu lama, tetapi saya tidak menyesal) dimana begitu banyak sarat akan makna tentang,
banyak orang yang mengesampingkan namanya cinta (cinta kepada keluarga, sahabat, dan pasangan) diatas namakan dengan pekerjaan. Banyak orang berpikir bahwa dirinya sibuk dengan pekerjaan, dan pekerjaan lah paling penting. Mereka berpikir bahwa untuk urusan cinta adalah urusan belakangan, urusan bisa di atur dilain waktu, urusan dapat di tunda di waktu berikutnya. Tetapi, tidak. Ambisi mu akan mengalahkan emosimu. Emosimu akan memainkan peran tingkahmu. Dan disitulah dirimu akan menjadi seorang yang serakah atau bahkan dalam drama tersebut menyebutkan menjadi seorang monster. Letak cinta dalam menggunting antara emosi dan ambisi tidak ada lagi, sehingga emosi memegang peran andil terhadap ego ego seseorang. Itulah sebabnya, banyak orang yang memiliki banyak rekan kerja, tetapi tidak memiliki teman atau sahabat. Memiliki banyak pertemuan, tetapi tidak pernah ditemukan. Bercinta dimana mana, tetapi tidak mencintai. Dan banyak hal lain yang terlihat seperti fatamorgana. Seakan ada, tetapi sebenarnya tidak. Ilusi optik yang diciptakan panca indera yang banyak orang tidak sadar akan hal tersebut. Seakan mereka memiliki kuasa dengan pencapaian hasil pekerjaannya, tetapi ternyata orang yang mencintainya tidak pernah bahagia. Ternyata, disinilah saya belajar. Ambisi dan mimpi adalah tujuan. Tetapi tujuan tidak akan berarti jika jalan yang kau tempuh hanya menjadi jalan maut untuk orang yang mencintaimu. Mulai sekarang, ayo kawan, meraih mimpi dengan tidak melupakan cinta (garis bawah ya, cinta disini adalah cinta untuk keluarga, teman, Tuhan, pasangan, juga kerabat), persoalan berhasil atau tidak mimpi dan ambisimu, biar menjadi takdir maha kuasa. Yang ter penting kita tidak kehilangan cinta orang orang yang tulus untuk kita. Mari mengatur hidup dengan lebih baik. Sempatkan lah menanyakan kabar orang yang mencintaimu. Karena, sibuk itu tidak ada. Yang ada hanya penentuan prioritas.

Setelah dirimu telah menjaga cinta mu, dan tetap berjalan beriringan dengannya, pasti dirimu akan menerima guncangan hebat. Jalan yang berbatu membuat mu sakit diperjalanan. Jalan yang menanjak membuat mu lesu di perjalanan. Jalan yang berliku membuat mu kecewa di perjalanan. Tetapi, jangan menyerah dengan rasa sakit. Rasa sakit, kecewa, lesu, dan sebagainya harus tetap disyukuri. Karena, dengan merasakan sakit, penanda bahwa diri kita masih hidup. Masih merasakan. Mencobalah menghargai makna bafas yang diberikan kepada kita, dengan menghargai segala perasaan yang ada yang datang. Bahagia atau sakit, senang atau luka, itulah penanda bahwa kita masih didunia, bernafas, dengan jantung yang berdetak. Cobalah datang ke rumah sakit, lihat beberapa pasien, dan tengok betapa tulus nya mereka berdoa agar tetap hidup. Maka, bersyukurlah! Karena apapun perasaan kita saat ini, menandakan indera perasa kita masih berfungsi, kita masih hidup.
Karena bahagia akan segera pergi, begitu juga dengan kesedihan. Kesedihan akan segera pergi. Maka,
Akhir kata, jangan pernah tinggalkan cinta, sesakit apapun, menandakan kita masih hidup. Karena dengan hidup, kita bisa melihat kesedihan digantikan dengan kebahagiaan.

Yap, cukup sekian review drama korea kali ini. Maafkan saya jika mengambil sudut pandang berbeda dari anak muda jaman sekarang. Saya bukan mengulas tentang bagaimana romantis nya si aktor terhadap si aktris, atau mengulas tentang seberapa tampan/cantik mereka.

Mari membaca, mari menonton, mari memberi manfaat.

(c) rumah, 16 Agustus 2016.

1 AGUSTUS 2003

Senin, 01 Agustus 2016

Hello, dad. How are you? I miss you so💕
It has been 13 years since you were gone.
1 august 2003, tepat dini hari. Anak umur 9 tahun mengerti soal apa? Hari itu teringat jelas telfon berdering, bawa kabar jika dirimu tidak lagi ‘ada’.
Apa dikepala anak umur 9 tahun? Kali itu perasaan saya bingung, campur aduk antara sedih dan bimbang. Kebiasaan setiap pulang sekolah, mampir di kantor menunggu Etta pulang, sambil mencari bakso, otomatis tidak lagi ada. Sembari menunggu bakso, etta memang tidak punya banyak waktu untuk bertanya “belajar apa disekolah?” tetapi setidaknya etta masih sering bertanya setiap malam, “bos, sudah sikat gigi?”. Namanya anak umur 9 tahun, jawabannya pasti “belum”.
Di kepala saya pada saat itu juga bimbang, habis lah sudah satu-satunya lelaki di keluarga inti saya. Ber syukur waktu itu masih ada Neneketta, dan Puang yang merangkul segala sedih. Walau mereka juga harus 'berpulang’ beberapa tahun kemudian setelah Etta.
Sy sedih, bukan karena di tinggalkan oleh mu, saya yakin Allah begitu sayang padamu sehingga tidak ingin melihatmu lebih cepat tinggal disurga-Nya. Sy sedih karena dirimu yang 'sakit’ terlebih dahulu sebelum menghembuskan nafas terakhir. Sy sepertinya dapat merasakan degupan jantung yang tidak teratur, serta sakit tertindih dan keram di dada kirimu kala itu pada saat sujudmu di Rumah-Nya. Membuat mu sujud begitu lama. Dan ternyata mengharuskan mu langsung di larikan di RS persis sebelah mesjid. I can feel it Etta. Sometimes my heart was beaten so hard, so irregular. And i feel pain in my chest. Like something has lock it. But don’t worry Etta, I can handle it with my own self.
Kini, tinggalkan semua. Sy hanya ingin bercerita kisah bahagia untuk Etta. 13 tahun lamanya berjuang bersama Mama dan 6 kakak perempuan. Yeah, we are titanium-women. Especially for Mom, she has done her role as mom as well as daddy for 13 years. Can you see that? Etta tidak pernah salah pilih pendamping. Mama seorang diri telah bimbing ke 6 anak perempuan nya dengn sangat hebat! Basic kemampuan yang mama pelajari darimu, dan basic mama yang berani, kuat, dan percaya diri, membuat Mama mempu bersaing dengan keras dunia. Suka duka tentu ada, jatuh dan bangun kembali, hingga beberapa tahun terakhir Ini Alhamdulillah mama diberi kesempatan dua kali untuk menjadi wakil tangan-tangan diwilayah khusus. Alhamdulillah, Etta patut berbangga! Istri Etta orang yang hebat, begitu ulet di segala bidang. Pagi pagi ke dapur menyiapkan sarapan, ke kantor untuk melayani masyarakat, dan malam tetap mengkontrol anak-anaknya agar tetap tumbuh bahagia dan sehat. Lihat saja Etta, sekarang anak-anak mu Alhamdulillah sudah mendapat jodohnya (kecuali saya, masih dalam proses etta hihi), mereka sudah selesai bersekolah dan telah membangun rumah tangga dengan prestasi membanggakan. Selama 13 tahun, istri mu begitu hebat etta membimbing kami💕
Anak pertama, kak ida dan suaminya kak jusli. Anaknya sekarang ada 4. Dan laki-laki semua Etta! Hihi. Namanya Israfil, Mikail, Jibril, dan Izrail. Semuanya putih-putih, dan tentu saja 'hiperaktif’. Sekarang kak ida di instansi pemerintahan Etta, dan kak jusli staff bagian nefrologi di ppds Anak UH. Yap, LDR😂 kak ida di tolitoli, kak jusli di makassar. Hitung-hitung temani saya Etta disini hihi. Tapi mulai tahun lalu Israfil sekolahnya di Makassar Etta, di pesantren tempat Etta sekolahkah kak ida juga😅 hebat kan cucu pertama Etta? Baru SMP sudah berani masuk pesantren! Jiwa beraninya pasti dari Etta!:)
Kalau kak kia, sekarang juga di instansi pemerintahan Etta. Alhamdulillah anaknya 2 orang. Namanya Dinda dan Luna.Cantik cantik. Dan RAJIN! Hihi. Mereka masih duduk disekolah dasar. And will be coming soon for the third. Kak kia paling pengertian. Dan jiwa berani dari etta turun ke dia😂
Ke tiga kak nani, nah ini paling sabar. Jiwa sabar etta turun ke dia. Suaminya d'ari, etta pasti kenal baik lah:) sabaaaar dan paling bijaksana! Wuhuu. Mereka sama sama di instansi pemerintahan Etta. Tapi kak nani lagi di sini skrg, lanjut ambil gelarnya yang lain. Yaah sama dengan kak jusli, temani sy disini Etta😂. Anaknya 4 orang, dan coming soon for the fifth😌 Ada Kahfi (ini cowok satu satunya), Nayla (ajarkan resep diet ke ponakan satu ini Etta😭), Amirah (Huah, paling cerewet!), dan Nifa (si kecil dan paling suka nempel di amirah). Cucu etta hebat hebat❤️ sy yakin mereka kebanggan disekolahnya!
Next kak pipi, sekarang menetap di TU RS.Mokopido, tapi kurang pasti juga sih bagian apa disana. Tapi bingungkan Etta? Alumni IPDN, dan S2 pemerintahan kenapa ditempatkan di RS? Wkwk. Tapi Alhamdulillah, bersyukur yang utama katanya. Kalau kak aso, suaminya kak pipi kerjanya di Pelabuhan Etta, sy juga kurang paham dengan 'seragam biru’ nya itu dari bagian apa😂 kak pipi yang confident nya tinggi, dan kak aso yang low-profile saling menutupi dan membesarkan. Oh ya, anaknya 2 orang etta. Perempuan semua. Namanya Nanda dan Nindi. Both of them are so healthy and beautiful💕
Nah sekarang kak kiki, anak ke lima. Hihi💕 kak kiki si cantik dan smart. Oke harus saya akui. Apoteker double degree dari UGM dan lulusan terbaik apt! Wiw, clap our handa Etta👏 dan semua berkat doa dan bimbingan Mama serta basic life principles dari Etta❤️ dan jodohnya juga (aka suaminya) namanya kak ishak, Apt juga😂 yah jodoh seprofesi. Kak kiki dlu kan di RS mokopido, tapi skrg sdh ikut Kak icca ke Makassar Etta. Mereka punya rumah dan apotek di luar negri ( aka Sudiang ) 😂 kalau kak kiki gendut nan manis ini jadi farmasis di RS Daya Makassar, lumayan Etta kalau sy stase disana gizi ku tercukupi😂 dan kalau kak icca di Labkes Province. Yeay, they are perfect couple i thought. Anaknya masih satu dan super cengeng, zakwan. Dulu waktu akikahnya, teman temanku datang namanya diganti bakwan😌
Oke pindah ke kak melda. Kak melda yang dulu etta antar ke palu, sekarang sudah jadi dokter Etta. Dan ikuti langkah kak jusli jadi spesialis anak. Sekaran katanya mau baca proposal sih Etta. But not sure. Yang jelas hampir selesai. Wuiiih. Double dokter anak yah Etta? Yap, positive nya anak-anak cucu etta tumbuh sehat dan berkembang sempurna💕 suaminya kak aso, lulusan IPDN yang etta jg pasti kenal baik. Sabar dan agak pendiam. Most of all, mereka jago dalam didik anaknya. Jadilah anaknya Atha namanya, laki laki Etta, jadi anak Superaktif dan cerdas, walau agak manja. Hihi💕
And the last one…. Is me! Gina, anak etta terakhir. Yang umurnya beda jauh dengan kakak-kakaknya. Yang akhirnya satu-satunya anak yang belum menikah diantara 7 bersaudara (doakan secepatnya etta😂)
13 tahun lalu, etta berpesan sama mama, titip anak terakhir, titip masa depannya. Kini, proudly present gina sudah jadi Sarjana Kedokteran Etta❤️ dan sekarang lagi jadi mahasiswa profesi untuk dapat gelar Dr. Ets, tapi tunggu dulu Etta. Gina tidak semata-mata cuma jadi mahasiswa kedokteran. Kepandaian mu dalam retorika, jiwa percaya dirimu, watak keras dan penyayang mu begitu gina duplikasi Etta, tidak heran gina selalu aktif di internal maupun eksternal kampus. Dulu waktu di SMADA juga demikian Etta. Hati tidak komplit jika tidak beradu retorika atau beradu pendapat. Haha😂
Oh iya etta, yang sedih, gina pernah di buat 'malu’ dalam sebuah seleksi penerimaan asisten, ah kala itu gina begitu sakit hati. Tetapi, Alhamdulillah berkat itu, sy jadi bisa tumbuh menjadi lebih baik! Mendapatkan tempat yang cocok untuk Gina lebih dari sakit hati gina, lulus jadi PHN ISMKI di International Affair, dan skrg staff Vice President External ISMKI, hingga menjadi representative Indonesia untuk IFMSA, dan representatives seluruh mahasiswa kedokteran dunia di IFMSA dalam UNESCO World Conference di Italy. Etta, bagi saya untuk berpergian keluar negri itu mudah jika hanya membeli tiket dan pergi ber libur. Tetapi, untuk gina, Gina tidak mau pergi keluar negri untuk liburan. Saya harus menjadi 'sesuatu’ untuk berpergian ke keluar dari Indonesia. Ya motivasi itu membuat terus berpacu untuk mencari peluang peluang Etta dan tetap terus belajar meningkatkan kualitas diri. Tapi tetap, menunduk dan meluaskan dan besarkan hati. Kemarin KTI gina masuk seleksi untuk dipresentasi kan di SAFETY Wolrd Conference di Finland, tapi pihak panitia cuma dapat biayai dari negara terdekat dari Finland Etta, alhasil maafkan gina yan lepas peluang itu:’) tapi tenang Etta gina akan challenge diri Gina untuk mendapat peluang lainnya! Terima kasih Etta, begitu memberikan banyak jiwa jiwa baik untuk gina dan kakak-kakak💕
Oh ya etta, gina berjanji. Akan menyembunyikan almamater, meletakkan gelar sarjana cukup di dalam ijazah, dan jas putih cukup dalam lingkungan kerja, tidak dalam foto media sosial, tidak dalam undangan pernikahan, atau sebatas urusan perkenalan dengan orang lain. Tidak pernah mengungkit almamater dan jurusan dihadapan orang lain meskipun orang lain ingin membahasnya. Berhenti membandingkan apa yang pernah sy jalani semasa kuliah dengan masa orang lain.
Saya percaya, bahwa setiap jurusan dan tempat memiliki kebaikannya masing-masing. Tidak merasa lebih baik dari orang lain karena almamater dan gelar yang mengikat pada jas dan nama saya yang notabene adalah jurusan yang peminatnya puluhan ribu setiap tahunnya.
Dan segala sesuatu itu tidak akan muncul di masyarakat, karena masyarakat tidak akan bertanya kamu lulusan dimana. Masyarakat akan memandang kebermanfaatan dan kebaikan manusianya. Sopan tidaknya, baik tidaknya, jujur tidaknya, dan hal-hal yang sering lupa kita pelajari semasa bangku kuliah. Tentang kemampuan beradaptasi dengan masyarakat dan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.


Etta, salam sayang kami dari semua nama nama di atas. Kami sayang Etta. Tanpa Etta, kami tidak mungkin berdiri seperti sekarang. Tanpa Mama, kami tidak mungkin berhasil seperti saat ini. 
Terima kasih Etta, doa kami kekal untuk mu di setiap lima sujud kami setiap hari. Disetiap niat niat baik di segala perbuatan kami. Disetiap langkah kami untuk menuju keselamatan.
Etta, kami rindu. Baik-baik disana. Kirimkan kami tanda-mu dari sana jika kami khilaf dalam bertindak dan berucap.
13 tahun dan berapa tahunpun, Etta tidak akan pernah hilang. Etta ada di hati kami, di langkah kami, disetiap hari kami. Terima kasih Etta. Hidup ku begitu Indah, begitu bermakna, dan tetap begitu bermanfaat!
Salam sayang kami,
Mama, Ida, Kia, Nani, Pipi, Kiki, Melda, Gina❤️
(Al-Fatihah)

ANNIVERSARY

Jumat, 15 Juli 2016

Namanya "anniversary", merupakan sebuah nama hari. Hari apa? Hari khusus untuk seseorang, dua orang, atau sebuah kelompok.
Namun kali ini sy ingin membiat opini tentang 'hari khusus' itu dalam sisi berpasangan.
Anniversary, ya kadang orang katakan ia sebuah tanggal resmi untuk dua orang merajut sebuah hubungan.
Ketika anniversary datang, banyak 'kata-kata' di luncurkan manis, romantis, penuh cinta di bawa ke media sosial. Memberitahukan kepada orang bahwa mereka (dua orang tersebut) masih bertahan.
Apakah itu salah?
Tidak, untuk saya.
Tetapi, anniversary untuk saya jauh dari makna perayaan. Perayaan hanya salah satu bingkai, dan kata manis di media sosial adalah kertas pembungkusnya. Agar terlihat dan terkemas lebih indah.
Anniversary untuk saya merupakan hari untuk dua orang melakukan lebih. Lebih apa?

Anniv membuat kita lebih berserah, berserah mendokan hubungan agar tetap dalam ridha dan bimbingan Tuhan, tetap berjalan dalam langkah-Nya, dan jauh dari sesuatu yang membuat kita jauh dari diri-Nya.

Anniv membuat kita lebih dewasa, dewasa bahwa hubungan yang telah dibangun bukan merupakan hal yang nanti akan menyakiti salah satu pihak, atau keduanya. Bahwa hubungan atas dasar ketulusan dan dibangun dalam bingkai kebijaksanaan, kesabaran, dan paling penting adalah memahami. Karena orang dewasa, berprinsip untuk saling membesarkan. Bukan saling menyakiti.

Anniversary membuat kita lebih mengingat. Mengingat bahwa perjalanan di depan masih panjang, tujuan akhir kita yang begitu telah kita susun rapi harus dimenangkan. Mengingat bahwa di setiap perjalanan akan ada waktu jika salah satu dari kita akan khilaf untuk lupa menjadi bijaksana, lupa menjadi saling mengerti. Maka, disetiap anniversary siapkan hati mu, yang sempit menjadi luas. Yang telah luas, menjadi lebih luas. Siapkan sabuk pengaman kita, ikat dengan kencang, agar ketika hari itu tiba, kita tidak menyerah, tidak jatuh, dan tidak mencari pelarian. Siapkan kompas dan peta kita, juga lampu penerang. Agar ketika hari itu tiba lagi, kita tidak kehilangan jalan menuju 'tujuan' kita, tidak kehilangan cahaya-cahaya cinta yang kita punya untuk terus berjalan.

Anniversary membuat kita lebih menjadi seorang pejuang. Seorang pejuang tidak akan pernah lupa mengapa mereka harus berjuang. Maka, di hari anniversary kita seorang pejuang akan mengingat kembali, bagaimana perjuangan kita untuk membuat hubungan ini hingga detik ini. Mengingat kembali perjuangan dan niat awal mengapa kita mau berjuang bersama. Berpersng melawan dunia bersama. Karena saya yakin, seorang pejuang tidak akan berbicara dua kali. Niat awal untuk hubungan ke sebuah tujuan akan terus ia ingat, simpan, dan di perjuangkan. Karena seorang pejuang, tidak akan menjadi pejuang jika ia berkhianat.

Anniversary membuat kita lebih merendah. Merendah dengan ego masing-masing. Saya memilihmu karena saya percaya kamu orang hebat, juga diriku dipilihmu karena itu. Maka, orang hebat akan selalu mempunyai 'prinsip hidup'. Kita bukan pasangan yang lemah dan gampang menyerahkan? Kita bukan pasangan bodohkan? Makanya, kita ini mempunyai prinsip hidup masing-masing, gaya hidup masing-masing. Tapi, lebih merendah kepada mu dan kamu kepadaku, kita akan lebih mendapatkan jalan hubungan ini. Kita tidak bisa jalan di "gaya" masing-masing. Karena kita bukan hidup masing-masing. Dengan merendah, kita bisa mengesampingkan prinsip yang ada. Prinsip ini kita pakai untuk orang lain. Tetapi untuk berdua, tidak ada prinsip, tidak ada 'gaya', tidak peduli orang mengatakan apa, "lebay", "alay" dan masih banyak lagi kata-kata anak gaul saat ini. Karena yang tau tujuan kita, adalah kita berdua. Maka, untuk apa lebih mendengar kata orang lain?

Anniversary membuat kita lebih cerdas. Cerdas membuang sebuah ke khilafan pasangan, menaruhnya dalam pembungan sampah yang gelap, panas, dan akan menguap kemudian hilang. Sebagai yang membuat kesalahan? Anniversary kali ini harus membuat kita lebih cerdas. Orang cerdas tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Apalagi kesalahan yang dapat membuat hubungan begitu sesak, sempit, dan layak tempat tidak bisa dihuni. Lupakanlah, cerdaslah mengingat segala hal manis, kenangan baik dari pasangan. Cerdas lah, jangan melakukan kesalahan yang sama. Cerdas lah, menjadi orang yang jujur. Karena cuma keledai yang mau jatuh di lubang yang sama. Kita manusia kan? :)

Jadi.. Itu makna untuk saya. Tidak perlu dikemas dengan bingkisan mewah. Sederhana saja lebih indah kan? :)

Rumah, 23.00 WITA, 14 Juli 2016.
@gnapangeran

RUANG HATI

Minggu, 31 Mei 2015

Kita tidak perlu mengisi hidup orang lain bila ia memang tidak mau diisi, mungkin hatinya sudah penuh. Kita dengan sendirinya akan mengisi hidup orang-orang yang masih kosong. Dengan kita menjadi orang baik, dengan kita berbuat baik, dengan kita berlaku yang santun, menjadi orang yang ikhlas, dengan sendirinya orang lain akan menempatkan kita dalam posisi-posisi tertentu dalam hidupnya. Diberikan ruang dalam hatinya tanpa kita minta.


Kita cukup menjadi orang yang peduli, orang yang melakukan sesuatu tanpa mengharap sesuatu dari orang lain. Kita menjadi orang yang tulus. Tidak masalah dengan penolakan. Karena memang akan selalu ada orang yang tidak bisa menerima kita hadir dalam hidupnya karena alasan tertentu yang kita tidak tahu, tapi itu bukan sesuatu yang perlu kita salahkan.


Kita cukup terus berjalan, dan terus berbuat baik. Karena nanti, akan ada orang yang memberikan kita ruang yang sangat besar dalam hidupnya, ruang yang paling luas dan paling rahasia. Orang itu adalah orang yang nantinya menjadi rumah dimana tempat kita pulang dan tinggal. Karena ia menjadi orang yang paling bisa menerima kita saat kita pulang, seburuk apapun diri kita. Karena dalam ruang hatinya itu, kita menyimpan rahasia-rahasia terbesar dan dia bersedia menyimpan semua itu.

Semoga Tidak Kamu Lagi

Minggu, 17 Mei 2015

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia, bukan karna aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu.


Itu menyakitkan. Seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk. Supaya aku dapat melihat Tuhan memakaikan kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan. Sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.

Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu, mengelilingi tubuhku, dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku.

Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, yaitu karena aku mampu terima kamu apa adanya.

Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tidak lagi menginjak bumi. Sebab hidup terasa bagaikan dinding yang dingin.

Aku harus menjadi paku. Kamu yang bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku, dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Pada akhirnya, semoga tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.


*dikutip dari Buku "dear zarry's"