Iseng mencari data tentang
Generasi Milenial dan Generasi Z saat ini, saya mendapat satu artikel menarik.
Artikelnya sudah agak lama dituliskan, sekitar 2 tahun lalu. Artikel diangkat
dari Majalah Time, dengan judul “Me Me Me Generation; Millennials are lazy,
entitled narcissists who still live with their parents”. Membaca judulnya saja
membuat saya tersenyum tipis, dan agak tersindir. Membahas tentang generasi
milenial sebenarnya tidak terlalu penting dibanding dengan membahas fakta bahwa
ternyata kasus Pernikahan Dini masih mempunyai angka yang cukup tinggi, fakta
bahwa ternyata hak asasi fundamental sebagai seorang manusia tidak juga dapat
ditegakkan adil walau dalam negara bersistem demokrasi, dan isu isu lainnya.
Hanya saja, ketika majalah sebesar Time telah menjadikan isu Generasi Milenial
ini menjadi highlight berita, menandakan isu ini harus menjadi perhatian
khusus.
Untuk kalian yang belum tau,
apa generasi milenial itu, maka saya akan memberitahukan bahwa generasi
milenial adalah saya, dan sebaya saya yang lahir dari kisaran tahun 1980-2000.
Sebelum generasi ini, ada juga generasi Echo Boomers, generasi Boomerang, dan
lainnya. Namun, karena generasi milenial adalah generasi dengan usia produktif,
maka saya tertarik untuk mengulas sedikit isu ini.
Isu ini untuk semua para
remaja ‘kekinian’ hingga mereka yang sekarang sibuk merencanakan pernikahan
diusia 20 tahunan. DIlansir bahwa mereka ini adalah generasi yang kebutuhan
dalam ilmu ekonominya adalah membutuhkan 4 kebutuhan yang pokok: SANDANG, PANGAN,
COLOKAN dan INTERNET.
Menurut Time, setiap generasi
Milenial pasti berbeda-beda karakternya disetiap negara-negara didunia. Namun,
globalisasi, social media, perubahan yang tengah terjadi bak membuka keran air,
mengalirkan informasi dengan Western sebagai kiblat. Membuat Generasi Milenial
diberbagai negara memiliki definisi yang hampir sama. Bahkan negara seperti
Cina, dimana sejarah dan budaya bangsa adalah hal utama untuk menjadi kiblat
masyarakatnya; internet, urbanisasi, dan globalisasi telah membuat generasinya
menjadi generasi overconfident atau generasi yang mempunyai tingkat kepercayaan
diri sangat tinggi dan egois seperti generasi pada kiblatnya.
Masalah tersebut bukan hanya untuk mereka yang memiliki finansial yang tinggi saja, bahkan untuk
mereka yang mempunya finansial rendah juga memiliki masalah yang sama. Yaitu masalah tingginya angka generasi milenial dengan masalah NARSISTIK, MATREALISTIK, dan
KETERGANTUNGAN akan TEKNOLOGI, dan untuk satu tujuan semata; memperlihatkan
kepada dunia maya dan kepada orang lain tentang kehidupan mereka yang Fabulous atau kata lain kehidupan yang menakjubkan.
Generasi ini adalah mereka
yang menjadi subjek, menjadi manager, menjadi artis, juga menjadi kepala
didunia jagat-maya saat ini. Mereka adalah penguasa media social, mereka dapat
menjadi penyedia kontennya, menjadi kritikus tanpa data akurat, penonton yang
diam, juga consumer sejati. Sebutan kerennya sih, Netizen.
Dalam data yang saya peroleh
dari penelitian Research Now dengan judul “The ‘So, Me?’ Generation”, menyebutkan
bahwa angka hampir 40% dari generasi saat ini menggunakan media social lebih
dari 11 jam sehari. Dan mengklaim bahwa teman media social mereka yang biasa
dikenal dengan ‘Followers’ mempunyai angka 40% lebih penting dari pada generasi
lainnya yang mempunyai angka 23% saja. Hingga penelitian menyebutkan jika
mereka mempunyai Phobia tersendiri, yaitu Nomophobia. Yaitu keadaan dimana
takut berpisah jauh dari devices mereka, jaringan, dan sumber listrik. Data
lainnya juga menyebutkan 80% generasi ini hanya membuka media social ketika
memakai jaringan internet. Mereka adalah golongan yang percaya internet sama
pentingnya dengan makanan dan air sehingga hampir seluruh dari mereka tidur
bersama ponsel di sisinya.
Terdapat hampir 60% generasi
ini yang terkena Gangguan Narsistik Diri berdasarkan data dari National
Institute of Health. Selain itu, National Study of Youth and Religion juga
memaparkan data bahwa 60% dari mereka merasa bahwa setiap yang mereka pikirkan
adalah bersifat kebenaran. Karena mereka memandang diri mereka, adalah
orang-orang yang supel, open-minded, cerdas, bertanggung jawab, peduli, mandiri,
kreatif, dan antusias. (ya, lagi-lagi Narsistik).
Mereka memiliki keterlibatan
masyarakat yang kurang dan partisipasi politik yang lebih rendah daripada
kelompok sebelumnya. Dan paling penting adalah generasi ini adalah pemuja
ketenaran. Berdasarkan dari sebuah survey di Time, banyak remaja di US memiliki
keinginan untuk bekerja sebagai asisten pribadi seorang tokoh terkenal atau
memiliki pekerjaan yang memiliki potensi dikenal banyak orang. Dan inilah
alasan banyak generasi saat ini yang lebih memfokuskan diri mengumpulkan banyak
followers di media social mereka, salah satu cranya adalah dengan membeli akun
followers yang biasa dijual oleh cyber-crime. Kalian harus tau, dalam data yang
dilampirkan Indonesian Institute dalam Indonesia Update, terdapat 800.000 akun
yang menjadi cyber-crime, juga didalamnya dijual untuk mendapatkan atau
dijadikan followers. Membuat Indonesia juga darurat Cyber Crime.
Bisa membayangkan apa efek
jika generasi ini berkomunikasi lebih banyak melalui layar devices mereka.
Mereka dapat duduk disebuah café, dengan kursi yang berseblahan, tetapi jari
mereka mengetik sesuatu dilayar devices mereka masing-masing. Mereka mungkin terlihat
tenang dan biasa saja, tetapi sebenarnya mereka sangat cemas akan kehilangan
followers atau melewatkan sesuatu yang menarik. Yap sebut saja kekinian. Visi
mereka harus kekinian. Dengan data bahwa 70% mereka mengecek handphone mereka
setiap jam, dan sebagian mereka mengalami sindrom getaran HP pada pocket nya. Menjadikan
handphone adalah sebuah adiksi untuk mereka. Padahal, akibat adiksi ini mebuat
lama-kelamaan kreativitas seseorang bisa menjadi semakin TUMPUL. Diketahui,
angka kreativitas generasi Millennials semakin rendah sejak tahun 1998. Hal ini
disebutkan Larry Rosen, seorang
psikolog dari California State University at Dominguez Hills.
Masalah lain yang hanya
mereka mengerti adalah bagaimana membuat diri mereka, fisik mereka, kehidupan
mereka, bahkan setiap lekuk tubuh mereka menjadi sebuah ‘brand’, untuk para
teman dan followers sebagai ‘consumernya’. Ketika banyak yang ‘terjual’, maka
semakin tinggi lagi kepercayaan diri yang mereka punya, semakin tinggi pula
angka narsistik yang mereka punya.
Generasi saat ini juga tumbuh
dilingkungan para selebrity yang mendokumentasikan kehidupannya secara langsung
untuk para penggemarnya. Maka dari itu kita mudah mendapatkan riwayat
dokumentasi mereka pula bak selebrity-selebrity yang ada. Dan jika mereka telah
melakukan hal tersebut di Intagram, Youtube dan Twitter dengan baik dengan
tolak ukur memperoleh banyak ‘like’, maka jadilah mereka merasa seperti seorang
Microselebity.
Dunia yang global dan
kompetitif saat ini menuntut masyarakat untuk bersaing dan menjadi yang
terbaik. Dan mereka percaya bahwa penghargaan diri dan kepercayaan diri mereka
adalah modal mereka untuk bersaing. Padahal, dengan mencoba meningkatkan nilai
penghargaan diri, mereka secara tidak sadar juga meningkatkan nilai-nilai
narsisistik di dalam diri.
Ketika orang-orang mendaki
gunung untuk tujuan melihat dunia secara luas, mereka justru berusaha mendaki
gunung tertinggi supaya dapat dilihat oleh dunia, untuk menjadi pusat
perhatian. Namun saat mereka sudah dipuncak gunung yang tinggi tersebut, penghargaan
dunia tidak sebanding dengan apa yang mereka harapkan, mereka masuk dalam
kekecewaan, putus asa, dan perasaan gagal. Maka jangan heran jika angka depresi
pada generasi ini begitu tinggi. Sampai-sampai WHO menjadikan Depresi adalah
titik focus untuk hari Kesehatan Mental International dalam dua tahun
berturut-turut
Sempat saya singgung diatas
ketika mereka menjadikan dirinya sebagai ‘brand’ dimedia social, maka angka
narsisistik juga meningkat. Tidak heran, istilah selfie pun muncul dipermukaan.
Selfie Stick atau Tongsis bertebaran dimana-mana bak kebutuhan sekunder setelah
primer mereka yaitu smartphone telah tercukupi. Hari ini, adalah keadaan dimana
seorang yang berumur 1 hari memiliki foto dirinya lebih banyak dibanding para
pahlwana atau terkenal di abad ke-19.
Sekali lagi, followers yaitu
dengan arti ‘Pengikut’ pada media social membuat mereka merasa seperti Tuan dan
followers adalah pengikutnya atau konsumennya. Mereka berusaha keras
mendapatkan penerimaan dari banyak orang melalui sosial media sehingga fokus
pandang mereka adalah diri sendiri sebagai brand. Hingga mereka terlahir
menjadi generasi yang mempunyai angka yang rendah unuk memahami sudut pandang
orang lain. Membuat mereka menjadi manusia egois. Kemampuan empati mereka akan
kehidupan socialpun menurun sejak tahun 2000an akibat semakin berkurangnya
interaksi tatap muka dan semakin parahnya derajat narsisistik.
Seorang English professor di
Emory, yang juga seorang penulis The Dumbest Generation: How the Digital Age Stupefies
Young Americans and Jeopardizes Our Future. Menuliskan bahwa terdapat peer
pressure dalam generasi ini. Peer preasure adalah tekanan teman sebaya. Tekanan
teman sebaya ini adalah tekanan yang anti-sosial, anti-intelektual. Tekanan ini
mereka dapatkan dikarenakan aktivitas dialog mereka lebih banyak dengan teman
sebayanya melalui media social mereka, daripada dialog mereka dengan para
orangtua mereka sendiri. Atau dialog dengan orang yang lebih tua dibanding
mereka. Padahal, untuk bisa mencapai kedewasaan dalam hal
intelektual, seseorang harus sering berinteraksi dengan orang-orang yang lebih
tua usianya. Akibat peer pressure ini, generasi Millennials lebih terlambat
mencapai kedewasaan.
Keadaan ini
adalah keadaan berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya, disaat teknologi
IT masih terbatas dan koneksinya masih begitu susah didapatkan, sehingga
generasi dahulu lebih banyak diskusi, dialog, interaksi, dan belajar dengan
orang yang lebih tua dari mereka.
Beberapa paparan
diatas membuat saya penasaran tentang angka kebahagiaan generasi Millennials
ini. Saya rasa, jika generasi ini menjadi yang mempunyai tingkat bahagia yang
rendah, hal tersebut adalah kewajaran. Dikarenakan masa pencitraan saat ini
melalui media begitu kuat adanya, menawarkan tingkat depresi yang tinggi,
frustasi yang meningkat. Juga menawarkan generasi yang jauh akan nilai budaya
yang ada.
Genereasi ini
mulai membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain yang sudah
dicitrakan puluhan kali lebih baik dari yang sebenarnya. Inilah titik
pentingnya organisasi budaya bukan hanya menawarkan budaya tangible, tetapi
juga budaya intangible seperti budaya berperilaku, budaya ‘malu’, budaya gotong
royong, kerja sama, dan lainnya.
Titik akhirnya, generasi
Millennials kali ini dihadapkan denga kenyataan keberadaan generasi setelahnya,
yaitu Generasi Z. Dan kedua generasi ini bukanlah generasi yang anomaly, bukan
sepsis baru, ataupun hasil mutasi genetic alien dengan manusia. Generasi ini
adalah akibat dari sebab oleh generasi sebelumnya.
Jika dahulu manusia
berdadaptasi kemudian bertahan hidup dengan mencari sumber bumi di gua-gua,
makaha tersebut diatas adalah cara generasi ini untuk bertahan hidup dimasanya. Dengan
mengkakses informasi adalah sebuah keharusan untuk para Millennilas. Sehingga
muncul istilah bahwa Informasi adalah hal termahal hari ini. Seorang penulis
mengatakan, ada banyak pribadi unggul di muka bumi, tetapi tidak semua orang
mendapat kesempatan yang sama. Untuk itulah akses terhadap informasi menjadi
pembedanya, mana orang-orang yang akan melesat jauh ke depan, mana yang akan
tertinggal di belakang. Informasi atau mati, mungkin itu semboyan hidup saat
ini.
