"So, Me" Generation

Rabu, 01 November 2017

Iseng mencari data tentang Generasi Milenial dan Generasi Z saat ini, saya mendapat satu artikel menarik. Artikelnya sudah agak lama dituliskan, sekitar 2 tahun lalu. Artikel diangkat dari Majalah Time, dengan judul “Me Me Me Generation; Millennials are lazy, entitled narcissists who still live with their parents”. Membaca judulnya saja membuat saya tersenyum tipis, dan agak tersindir. Membahas tentang generasi milenial sebenarnya tidak terlalu penting dibanding dengan membahas fakta bahwa ternyata kasus Pernikahan Dini masih mempunyai angka yang cukup tinggi, fakta bahwa ternyata hak asasi fundamental sebagai seorang manusia tidak juga dapat ditegakkan adil walau dalam negara bersistem demokrasi, dan isu isu lainnya. Hanya saja, ketika majalah sebesar Time telah menjadikan isu Generasi Milenial ini menjadi highlight berita, menandakan isu ini harus menjadi perhatian khusus.

Untuk kalian yang belum tau, apa generasi milenial itu, maka saya akan memberitahukan bahwa generasi milenial adalah saya, dan sebaya saya yang lahir dari kisaran tahun 1980-2000. Sebelum generasi ini, ada juga generasi Echo Boomers, generasi Boomerang, dan lainnya. Namun, karena generasi milenial adalah generasi dengan usia produktif, maka saya tertarik untuk mengulas sedikit isu ini.

Isu ini untuk semua para remaja ‘kekinian’ hingga mereka yang sekarang sibuk merencanakan pernikahan diusia 20 tahunan. DIlansir bahwa mereka ini adalah generasi yang kebutuhan dalam ilmu ekonominya adalah membutuhkan 4 kebutuhan yang pokok: SANDANG, PANGAN, COLOKAN dan INTERNET.

Menurut Time, setiap generasi Milenial pasti berbeda-beda karakternya disetiap negara-negara didunia. Namun, globalisasi, social media, perubahan yang tengah terjadi bak membuka keran air, mengalirkan informasi dengan Western sebagai kiblat. Membuat Generasi Milenial diberbagai negara memiliki definisi yang hampir sama. Bahkan negara seperti Cina, dimana sejarah dan budaya bangsa adalah hal utama untuk menjadi kiblat masyarakatnya; internet, urbanisasi, dan globalisasi telah membuat generasinya menjadi generasi overconfident atau generasi yang mempunyai tingkat kepercayaan diri sangat tinggi dan egois seperti generasi pada kiblatnya.

Masalah tersebut bukan hanya untuk mereka yang memiliki finansial yang tinggi saja, bahkan untuk mereka yang mempunya finansial rendah juga memiliki masalah yang sama. Yaitu masalah tingginya angka generasi milenial dengan masalah NARSISTIK, MATREALISTIK, dan KETERGANTUNGAN akan TEKNOLOGI, dan untuk satu tujuan semata; memperlihatkan kepada dunia maya dan kepada orang lain tentang kehidupan mereka yang Fabulous atau kata lain kehidupan yang menakjubkan. 

Generasi ini adalah mereka yang menjadi subjek, menjadi manager, menjadi artis, juga menjadi kepala didunia jagat-maya saat ini. Mereka adalah penguasa media social, mereka dapat menjadi penyedia kontennya, menjadi kritikus tanpa data akurat, penonton yang diam, juga consumer sejati. Sebutan kerennya sih, Netizen.
Dalam data yang saya peroleh dari penelitian Research Now dengan judul “The ‘So, Me?’ Generation”, menyebutkan bahwa angka hampir 40% dari generasi saat ini menggunakan media social lebih dari 11 jam sehari. Dan mengklaim bahwa teman media social mereka yang biasa dikenal dengan ‘Followers’ mempunyai angka 40% lebih penting dari pada generasi lainnya yang mempunyai angka 23% saja. Hingga penelitian menyebutkan jika mereka mempunyai Phobia tersendiri, yaitu Nomophobia. Yaitu keadaan dimana takut berpisah jauh dari devices mereka, jaringan, dan sumber listrik. Data lainnya juga menyebutkan 80% generasi ini hanya membuka media social ketika memakai jaringan internet. Mereka adalah golongan yang percaya internet sama pentingnya dengan makanan dan air sehingga hampir seluruh dari mereka tidur bersama ponsel di sisinya.

Terdapat hampir 60% generasi ini yang terkena Gangguan Narsistik Diri berdasarkan data dari National Institute of Health. Selain itu, National Study of Youth and Religion juga memaparkan data bahwa 60% dari mereka merasa bahwa setiap yang mereka pikirkan adalah bersifat kebenaran. Karena mereka memandang diri mereka, adalah orang-orang yang supel, open-minded, cerdas, bertanggung jawab, peduli, mandiri, kreatif, dan antusias. (ya, lagi-lagi Narsistik).

Mereka memiliki keterlibatan masyarakat yang kurang dan partisipasi politik yang lebih rendah daripada kelompok sebelumnya. Dan paling penting adalah generasi ini adalah pemuja ketenaran. Berdasarkan dari sebuah survey di Time, banyak remaja di US memiliki keinginan untuk bekerja sebagai asisten pribadi seorang tokoh terkenal atau memiliki pekerjaan yang memiliki potensi dikenal banyak orang. Dan inilah alasan banyak generasi saat ini yang lebih memfokuskan diri mengumpulkan banyak followers di media social mereka, salah satu cranya adalah dengan membeli akun followers yang biasa dijual oleh cyber-crime. Kalian harus tau, dalam data yang dilampirkan Indonesian Institute dalam Indonesia Update, terdapat 800.000 akun yang menjadi cyber-crime, juga didalamnya dijual untuk mendapatkan atau dijadikan followers. Membuat Indonesia juga darurat Cyber Crime.

Bisa membayangkan apa efek jika generasi ini berkomunikasi lebih banyak melalui layar devices mereka. Mereka dapat duduk disebuah café, dengan kursi yang berseblahan, tetapi jari mereka mengetik sesuatu dilayar devices mereka masing-masing. Mereka mungkin terlihat tenang dan biasa saja, tetapi sebenarnya mereka sangat cemas akan kehilangan followers atau melewatkan sesuatu yang menarik. Yap sebut saja kekinian. Visi mereka harus kekinian. Dengan data bahwa 70% mereka mengecek handphone mereka setiap jam, dan sebagian mereka mengalami sindrom getaran HP pada pocket nya. Menjadikan handphone adalah sebuah adiksi untuk mereka. Padahal, akibat adiksi ini mebuat lama-kelamaan kreativitas seseorang bisa menjadi semakin TUMPUL. Diketahui, angka kreativitas generasi Millennials semakin rendah sejak tahun 1998. Hal ini disebutkan Larry Rosen, seorang psikolog dari California State University at Dominguez Hills.

Masalah lain yang hanya mereka mengerti adalah bagaimana membuat diri mereka, fisik mereka, kehidupan mereka, bahkan setiap lekuk tubuh mereka menjadi sebuah ‘brand’, untuk para teman dan followers sebagai ‘consumernya’. Ketika banyak yang ‘terjual’, maka semakin tinggi lagi kepercayaan diri yang mereka punya, semakin tinggi pula angka narsistik yang mereka punya.

Generasi saat ini juga tumbuh dilingkungan para selebrity yang mendokumentasikan kehidupannya secara langsung untuk para penggemarnya. Maka dari itu kita mudah mendapatkan riwayat dokumentasi mereka pula bak selebrity-selebrity yang ada. Dan jika mereka telah melakukan hal tersebut di Intagram, Youtube dan Twitter dengan baik dengan tolak ukur memperoleh banyak ‘like’, maka jadilah mereka merasa seperti seorang Microselebity.

Dunia yang global dan kompetitif saat ini menuntut masyarakat untuk bersaing dan menjadi yang terbaik. Dan mereka percaya bahwa penghargaan diri dan kepercayaan diri mereka adalah modal mereka untuk bersaing. Padahal, dengan mencoba meningkatkan nilai penghargaan diri, mereka secara tidak sadar juga meningkatkan nilai-nilai narsisistik di dalam diri.
Ketika orang-orang mendaki gunung untuk tujuan melihat dunia secara luas, mereka justru berusaha mendaki gunung tertinggi supaya dapat dilihat oleh dunia, untuk menjadi pusat perhatian. Namun saat mereka sudah dipuncak gunung yang tinggi tersebut, penghargaan dunia tidak sebanding dengan apa yang mereka harapkan, mereka masuk dalam kekecewaan, putus asa, dan perasaan gagal. Maka jangan heran jika angka depresi pada generasi ini begitu tinggi. Sampai-sampai WHO menjadikan Depresi adalah titik focus untuk hari Kesehatan Mental International dalam dua tahun berturut-turut


Sempat saya singgung diatas ketika mereka menjadikan dirinya sebagai ‘brand’ dimedia social, maka angka narsisistik juga meningkat. Tidak heran, istilah selfie pun muncul dipermukaan. Selfie Stick atau Tongsis bertebaran dimana-mana bak kebutuhan sekunder setelah primer mereka yaitu smartphone telah tercukupi. Hari ini, adalah keadaan dimana seorang yang berumur 1 hari memiliki foto dirinya lebih banyak dibanding para pahlwana atau terkenal di abad ke-19.

Sekali lagi, followers yaitu dengan arti ‘Pengikut’ pada media social membuat mereka merasa seperti Tuan dan followers adalah pengikutnya atau konsumennya. Mereka berusaha keras mendapatkan penerimaan dari banyak orang melalui sosial media sehingga fokus pandang mereka adalah diri sendiri sebagai brand. Hingga mereka terlahir menjadi generasi yang mempunyai angka yang rendah unuk memahami sudut pandang orang lain. Membuat mereka menjadi manusia egois. Kemampuan empati mereka akan kehidupan socialpun menurun sejak tahun 2000an akibat semakin berkurangnya interaksi tatap muka dan semakin parahnya derajat narsisistik.

Seorang English professor di Emory, yang juga seorang penulis The Dumbest Generation: How the Digital Age Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future. Menuliskan bahwa terdapat peer pressure dalam generasi ini. Peer preasure adalah tekanan teman sebaya. Tekanan teman sebaya ini adalah tekanan yang anti-sosial, anti-intelektual. Tekanan ini mereka dapatkan dikarenakan aktivitas dialog mereka lebih banyak dengan teman sebayanya melalui media social mereka, daripada dialog mereka dengan para orangtua mereka sendiri. Atau dialog dengan orang yang lebih tua dibanding mereka.  Padahal, untuk bisa mencapai kedewasaan dalam hal intelektual, seseorang harus sering berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua usianya. Akibat peer pressure ini, generasi Millennials lebih terlambat mencapai kedewasaan.

Keadaan ini adalah keadaan berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya, disaat teknologi IT masih terbatas dan koneksinya masih begitu susah didapatkan, sehingga generasi dahulu lebih banyak diskusi, dialog, interaksi, dan belajar dengan orang yang lebih tua dari mereka.

Beberapa paparan diatas membuat saya penasaran tentang angka kebahagiaan generasi Millennials ini. Saya rasa, jika generasi ini menjadi yang mempunyai tingkat bahagia yang rendah, hal tersebut adalah kewajaran. Dikarenakan masa pencitraan saat ini melalui media begitu kuat adanya, menawarkan tingkat depresi yang tinggi, frustasi yang meningkat. Juga menawarkan generasi yang jauh akan nilai budaya yang ada.
Genereasi ini mulai membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain yang sudah dicitrakan puluhan kali lebih baik dari yang sebenarnya. Inilah titik pentingnya organisasi budaya bukan hanya menawarkan budaya tangible, tetapi juga budaya intangible seperti budaya berperilaku, budaya ‘malu’, budaya gotong royong, kerja sama, dan lainnya.

Titik akhirnya, generasi Millennials kali ini dihadapkan denga kenyataan keberadaan generasi setelahnya, yaitu Generasi Z. Dan kedua generasi ini bukanlah generasi yang anomaly, bukan sepsis baru, ataupun hasil mutasi genetic alien dengan manusia. Generasi ini adalah akibat dari sebab oleh generasi sebelumnya.


Jika dahulu manusia berdadaptasi kemudian bertahan hidup dengan mencari sumber bumi di gua-gua, makaha tersebut diatas adalah cara generasi ini untuk bertahan hidup dimasanya. Dengan mengkakses informasi adalah sebuah keharusan untuk para Millennilas. Sehingga muncul istilah bahwa Informasi adalah hal termahal hari ini. Seorang penulis mengatakan, ada banyak pribadi unggul di muka bumi, tetapi tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Untuk itulah akses terhadap informasi menjadi pembedanya, mana orang-orang yang akan melesat jauh ke depan, mana yang akan tertinggal di belakang. Informasi atau mati, mungkin itu semboyan hidup saat ini.