Mengutak-atik pembicaraan persoalan tentang kesehatan mental, dihari kesehatan mental dunia yang berlangsung mulai dari kemarin, hari ini, dan besok hari, maka literatur akan memberikan beberapa referensi seputar skizofrenia, bipolar, cemas atau anxietas disorder, dan lain sebagainya. Tidak banyak literatur menyebutkan atau bahkan mungkin lupa bahwa berbohong, juga masuk didalamnya, berbohong dan kesehatan mental.
Saya bukan psikolog tentu saja, bukan juga psikiater, cuma seorang dokter muda yang sudah lewat stase Jiwa dan mencoba ber ala-ala menjadi seorang dengan keilmuan psikolog. Apa yang akan saya tulis? Ini adalah tentag Compulsive Lying Disorder. Sebuah kebiasaan, bentuk, dan seperti tengah membudaya dikalangan pemuda pemudi saat ini.
People now days are people in social media era, which are humans get widely chances to know other people without meet them in real life. To tell what is on ur mind or ur feeling without know them well. Sadar atau tidak, that’s the way to open people to make ‘LIE’. Basic example when we were laughed in our text, yet in real life we did’t event had a smile from our lips.
Media sosial kali ini seperti memberi warna baru pada kehidupan umat manusia dimuka bumi. Kalau kata Yasraf Amir Piliang (YAP), beliau dengan tegas mengklaim kematian realitas dan memproklamasikan tentang lahirnya postrealitas. Karakteristik kuat dari posrealitas adalah leburnya dikotomi antara dunia material dan immaterial di mana realitas alamiah dan realitas artifisial berbaur dan tumpang-tindih. Pada kondisi ini, fiksi ditampilkan seolah-olah sebagai fakta sementara fakta terjebak sebagai fiksi. Yap, people now days, mempunyai kesempatan terbuka untuk mengenal orang lain tanpa harus melihat ontologis atau keberadaan secara nyata orang tersebut. Bebas mengungkapkan pendapat secara luas dan terbuka tanpa perlu memikirkan hak-hak milik orang lain.
Disadari atau tidak, hal-hal ini menjadi sebuah landasan awal kebohongan tercipta.
Mau contoh kecil? Ketika, kita tertawa-tawa di pesan yang kita ketik, nyatanya wajah kita adalah wajah datar. Kita mengetik “I love you”, padahal kenyataannya sedang bermesraan dengan lainnya. Menyedihkan bukan? Yap. Tapi bukan kebohongan remeh seperti ini yang akan saya bahas. Hal didalam ini lebih kompleks dan holistik.
Kaliah tau? Didunia kesehatan mental juga mengenal Compulsive lying disorder. Keadaan ini merupakan bentuk ketidakmampuan seseorang untuk menampilkan diri atau sisi murni dari dirinya sendiri. Berawal dari kebohongan kecil, kemudian berlanjut menjadi kebiasaan dan terbentuklah zona nyaman dengan tameng yang mereka bangun untuk menutupi kekurang percayaan terhadap diri sendiri (poor self esteem). Dalam posrealitas, citra telah menjadi sebuah nilai yang mengonstruksi realitas dan mendefinisikan eksistensi. Yang menarik adalah ketika citra bukanlah sebuah entitas yang statis dan sederhana. Kompleksitas citra meningkat dengan pesat akibat pembiakan tanpa batas, melalui media-media teknologis yang semakin mudah diakses oleh siapa saja.
Compulsive lying disorder tidak memiliki pravelensi terbanyak kepada laki-laki ataupun perempuan. Keduanya memiliki kesempatan yang sama menjadi korban. Tetapi katanya, faktor keluarga adalah pemicu banyaknya kasus ini didunia psikologi.
Berbohong, berarti menutupi hal yang sebenaryna. Berbohong, berarti tidak menerima kenyataan. Berbohong, berarti tidak mampu menerima diri apa adanya. Berbohong, berarti ihendak membangun citra agar dapat diakui dengan membentuk ideal image sesuai yang diharapkan. Berbohong, berarti membuang kepercayaan sekitar yang diberikan kepadanya. Berbohong, berarti menutupi satu fakta dengan satu kebohongan, dan menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya. Berbohong, berarti menggadaikan kepercayaan sekitar, demi tercapainya tujuan pribadinya.
Everyone lies from time to time..
.. but for a compulsive liar, telling lies is routine. It becomes a habit – a way of life. –
(Anonymous)
Ulasan diatas memang tidak cukup untuk membuat kalian menyadari riwayat kebohongan kalian. Maka, mulailah dari sekarang untuk membuat catatan kecil dalam otak kalian tentang kebohongan apa yang pernah kalian lakukan, dan coba perbaiki dengan mulai membiasakan jujur dari hal yang paling kecil. Misalnya? mulai jujur dan menerima fakta bahwa lemak diperut masih saja bertumpuk, atau mengakui kalau kita tidak secantik Taylor Swift.
Kita harus menyadari bahwa berbohong harus dihilangkan dari hal hal terkecil, jika hal kecil saja kita kita berbohong, bagaimana dengan hal besar? Jika keluargamu saja kau bohongi, apalagi yang hanya teman? Jika janji dari mulutmu sendiri saja kau bohongi dan ingkari, bagaimana dengan pesan text yang selaam ini kau kirim? dimana letak kebenarannya?
Kebohongan yang hanya bersifat kecil dan mendesak, pada akhirnya akan menjadi sebuah kebohongan yang bersifat budaya dan habitual. Hingga akhrinya, tidak heran jika berbohong, juga menjadi pekerjaan pada jaman sekarang ini.
Yep, bekerja sebagai pembohong. Mau saya beri contoh? Okelah. Pernahkan kalian mendapatkan undian berhadiah, dan kemudian contact personnya meminta pajak untuk hadiah tersebut? Atau tiba-tiba telepon yang meminta bayaran terhadap kerabat yang tengah masuk rumah sakit? Tersebut hanya contoh kecil dimana kebohongan menjadi sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak terhitung berapa banyak tindak kriminal di bidang bohong berbohong, baik yang dikemas secara jahat ataupun dikemas secara kekeluargaan dan percintaan. Ah.. People these days.
Maka, banyaklah bersyukur jika kita menjadi pihak yang dibohongi, bukan yang membohongi. Karena kita masih masuk dalam kelompok orang yang jauh akan gangguan Compulsive Lying Disorder. Kita tidak tau bahwa bagaimana sulitnya orang untuk menerima dan membangun kepercayaan lagi ketika mereka telah dibohongi. Bahkan, ada yang merasa bahwa berbohong adalah sebuah hal yang enteng dan sepele. Bahkan mereka tidak merasa bersalah akan kebohongn tersebut. Seakan-akan berbohong adalah budaya anak muda jaman sekarang. Bahkan ada dimana seseorang merasa bawa kebohongan tidak menjadi beban moral bagi pelakunya. Hm, how come?
Pada akhrinya, pemahaman agama menjadi titik balik segalanya. Semua agama dibumi, tidak pernah mengindahkan berbohong sebagai perilaku yang terpuji. Maka, pemahaman agama yang diajarkan oleh madrasah awal, yaitu keluarga, menjadi titik balik pegangan manusia hari ini. Pegangan bahwa berbohong merupakan perbuatan tercela dan jauh dari kasih sayang Tuhan. Pegangan bahwa ternyata ada dunia dimana akan dimintai pertanggung jawaban atas apa saja yang sudah kita lakukan didunia.
Untuk kita atau kalian yang pernah dibohongi, berbesar hatilah. Hati yang berkualitas adalah mereka yang mampu memaafkan. Tapi satu hal, berlian yang berkualitas tidak akan sebanding dengan metal dijalanan. Mari lebih teliti lagi, dan mulai menjadi dewasa dengan meninggalkan segala yang membuat kita jauh dari nilai agama-budaya yang kita punya. Ingatlah, diri kalian yang sederhanajauh lebih sangat bernilai dan berharga dari pada diri mereka yang dibangun begitu superior dengan kebohongan-kebohongan.
And finally, the most dangerous liars are those who think they are telling the truth. Are u? ☺
