Kita tidak perlu mengisi hidup orang lain bila ia memang tidak mau diisi, mungkin hatinya sudah penuh. Kita dengan sendirinya akan mengisi hidup orang-orang yang masih kosong. Dengan kita menjadi orang baik, dengan kita berbuat baik, dengan kita berlaku yang santun, menjadi orang yang ikhlas, dengan sendirinya orang lain akan menempatkan kita dalam posisi-posisi tertentu dalam hidupnya. Diberikan ruang dalam hatinya tanpa kita minta.
Kita cukup menjadi orang yang peduli, orang yang melakukan sesuatu tanpa mengharap sesuatu dari orang lain. Kita menjadi orang yang tulus. Tidak masalah dengan penolakan. Karena memang akan selalu ada orang yang tidak bisa menerima kita hadir dalam hidupnya karena alasan tertentu yang kita tidak tahu, tapi itu bukan sesuatu yang perlu kita salahkan.
Kita cukup terus berjalan, dan terus berbuat baik. Karena nanti, akan ada orang yang memberikan kita ruang yang sangat besar dalam hidupnya, ruang yang paling luas dan paling rahasia. Orang itu adalah orang yang nantinya menjadi rumah dimana tempat kita pulang dan tinggal. Karena ia menjadi orang yang paling bisa menerima kita saat kita pulang, seburuk apapun diri kita. Karena dalam ruang hatinya itu, kita menyimpan rahasia-rahasia terbesar dan dia bersedia menyimpan semua itu.
RUANG HATI
Minggu, 31 Mei 2015
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.31
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Semoga Tidak Kamu Lagi
Minggu, 17 Mei 2015
Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia, bukan karna aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu.
Itu menyakitkan. Seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk. Supaya aku dapat melihat Tuhan memakaikan kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan. Sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.
Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu, mengelilingi tubuhku, dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku.
Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, yaitu karena aku mampu terima kamu apa adanya.
Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tidak lagi menginjak bumi. Sebab hidup terasa bagaikan dinding yang dingin.
Aku harus menjadi paku. Kamu yang bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku, dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya, semoga tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.
*dikutip dari Buku "dear zarry's"
Diposting oleh
gina pangeran
di
02.05
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
hati-hati dengan harapan!
Sabtu, 16 Mei 2015
Hati hati dengan harapan.
Hati hati dengan perasaan berharap.
Apalagi perasaan menyimpan harapan.
Karena tidak semua harapan akan selurus dengan kenyataan.
Karena tidak semua harapan akan memberi kebenaran realita.
Karena tidak semua harapan akan selalu tercapai faktanya.
Kadang, hidup kita harus hancur, harus terbuang, harus terperangkap dan harus tenggelam di dasar lautan luas yang tak berpenghuni.
Kadang, perasaan kita harus pecah, harus dibangun, kemudian harus dipecahkan lagi.
Semua karena, menyimpan harapan.
Maka, hati hati untuk menyimpan harapan.
Apalagi harapan terlalu tinggi.
Dengan ketinggian sedang saja, sakit nya tiada ampun dan tiada obatnya jika jatuh.
Apalagi terlalu tinggi?
Namun, jika harapan mu sudah sepertiku, terlanjur ada,
Sudah terlanjur tinggi,
Sudah terlanjur jatuh,
Dan sudah terlanjur membuat perasaan, tubuh, dan jiwamu hancur.
Maka berhati-hati lah.
Jangan menyimpan harapan lagi.
Kata sakit hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata patah hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata bersedih tidak akan ada, jika harapan juga tidak ada.
Karena bersedih,sakit hati, atau pun patah hati itu tidak mgkn akan ada obatnya.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah datang.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah memenuhi harapanmu.
Yang kau harapkan pun tidak pernah akan buat mu tersenyum.
Kau hanya membuang waktu mu untuk berharap.
apa yang kau nantikan agar sedih, patah, dan sakit menghilang?
Kecuali dia.
Namun, tidak mungkin. Cuma harapankan?
Maka, realtiskan pikiranmu. Buang jauh harapnmu.
Hanya itu satu satu nya jalan.
Apa? Kau sesak napas?
Apa? Jantung mu berdetak kencang?
Apa? Air matamu jatuh?
Itu hanya komplikasi jika terlalu tinggi harapanmu.
Seka air matamu, bernapaslah dengan perlahan, dan irama jantungmu akan reguler.
Maka, perlahan rendahkan harapanmu.
Jika telah rendah, perlahan tarulah ia ke tanah.
Tanam, kemudian kubur dalam-dalam.
Tidak akan ada apa apa jika kau kubur saat ini, hanya sekali saja sakitnya.
Setidaknya, sakitnya tidak berkepanjangan lagi.
Putuskan lah hari baru untuk hati yang baru.
Hati yang membuatmu bisa memperlakukan mu selayaknya "berhati".
Hati yang membuatmu tidak perlu sesak, tidak perlu menjatuhkan air mata, apalgi detak jantung yg membuat dada menjadi sakit. Yang dapat membagi waktunya untukmu walaupun di tengah kesibukannya. Yang dengan tegas dan bangga menggandeng mu didepan semua orang. Dan membuat semua orang cemburu akan hubungan mu.
Setelah ia datang,
Maka ucapkan terima kasih.
Atas nyawa baru.
Atas nafas baru.
Dan atas hidup yang baru.
Dan ingat, apapun, berhati-hati lah.
Hati hati dengan perasaan berharap.
Apalagi perasaan menyimpan harapan.
Karena tidak semua harapan akan selurus dengan kenyataan.
Karena tidak semua harapan akan memberi kebenaran realita.
Karena tidak semua harapan akan selalu tercapai faktanya.
Kadang, hidup kita harus hancur, harus terbuang, harus terperangkap dan harus tenggelam di dasar lautan luas yang tak berpenghuni.
Kadang, perasaan kita harus pecah, harus dibangun, kemudian harus dipecahkan lagi.
Semua karena, menyimpan harapan.
Maka, hati hati untuk menyimpan harapan.
Apalagi harapan terlalu tinggi.
Dengan ketinggian sedang saja, sakit nya tiada ampun dan tiada obatnya jika jatuh.
Apalagi terlalu tinggi?
Namun, jika harapan mu sudah sepertiku, terlanjur ada,
Sudah terlanjur tinggi,
Sudah terlanjur jatuh,
Dan sudah terlanjur membuat perasaan, tubuh, dan jiwamu hancur.
Maka berhati-hati lah.
Jangan menyimpan harapan lagi.
Kata sakit hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata patah hati tidak akan ada, jika harapan tidak ada.
Kata bersedih tidak akan ada, jika harapan juga tidak ada.
Karena bersedih,sakit hati, atau pun patah hati itu tidak mgkn akan ada obatnya.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah datang.
Yang kau harapkan pun tidak akan pernah memenuhi harapanmu.
Yang kau harapkan pun tidak pernah akan buat mu tersenyum.
Kau hanya membuang waktu mu untuk berharap.
apa yang kau nantikan agar sedih, patah, dan sakit menghilang?
Kecuali dia.
Namun, tidak mungkin. Cuma harapankan?
Maka, realtiskan pikiranmu. Buang jauh harapnmu.
Hanya itu satu satu nya jalan.
Apa? Kau sesak napas?
Apa? Jantung mu berdetak kencang?
Apa? Air matamu jatuh?
Itu hanya komplikasi jika terlalu tinggi harapanmu.
Seka air matamu, bernapaslah dengan perlahan, dan irama jantungmu akan reguler.
Maka, perlahan rendahkan harapanmu.
Jika telah rendah, perlahan tarulah ia ke tanah.
Tanam, kemudian kubur dalam-dalam.
Tidak akan ada apa apa jika kau kubur saat ini, hanya sekali saja sakitnya.
Setidaknya, sakitnya tidak berkepanjangan lagi.
Putuskan lah hari baru untuk hati yang baru.
Hati yang membuatmu bisa memperlakukan mu selayaknya "berhati".
Hati yang membuatmu tidak perlu sesak, tidak perlu menjatuhkan air mata, apalgi detak jantung yg membuat dada menjadi sakit. Yang dapat membagi waktunya untukmu walaupun di tengah kesibukannya. Yang dengan tegas dan bangga menggandeng mu didepan semua orang. Dan membuat semua orang cemburu akan hubungan mu.
Setelah ia datang,
Maka ucapkan terima kasih.
Atas nyawa baru.
Atas nafas baru.
Dan atas hidup yang baru.
Dan ingat, apapun, berhati-hati lah.
Diposting oleh
gina pangeran
di
02.46
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
MEWUJUDKANMU
Sabtu, 09 Mei 2015
Ternyata, mewujudkanmu tidak semudah apa yang aku sangka selama ini.
Tidak semudah apa yang aku pikirkan.
Bahkan dengan usahaku yang demikian, sampai saat ini kamu belum bisa aku wujudkan.
Harus jatuh berdebam, harus tertolak, harus kembali menata hati yang berantakan, perasaan yang tak terdefinisi, harus memahami ulang definisi tentang kamu.
Bahwa kamu ternyata tidak bermakna “kamu” sebagaimana aku pahami selama ini.
Bahwa kamu ternyata tidak bermakna “kamu” sebagaimana aku pahami selama ini.
Ada banyak kemungkinan tentang siapa kamu bagi Tuhan, sesuatu yang dirahasiakan dan tidak pernah aku mendapat bocoran.
Mewujudkanmu ternyata benar-benar menguras perasaan.
Mewujudkanmu ternyata benar-benar menguras perasaan.
Perjalanan ke sana membuatku harus patah berkali-kali, harus membangun kembali apa sesuatu yang baru,
harus mengenali kembali definisi-definisi baru dalam hidup ini; kamu, menunggu, yang terbaik, dan banyak kata-kata lain yang seolah-olah berubah makna setiap kali aku menemui peristiwa.
Mewujudkanmu kali ini menjadi lebih pasrah, lebih berserah, bahwa aku sungguh benar-benar mengakui bahwa aku tidak benar-benar tahu yang terbaik untuk diriku sendiri.
Mewujudkanmu kali ini menjadi lebih pasrah, lebih berserah, bahwa aku sungguh benar-benar mengakui bahwa aku tidak benar-benar tahu yang terbaik untuk diriku sendiri.
Aku hanya bisa mengusahakan yang terbaik, tapi tidak tahu tentang yang terbaik.
Mewujudkanmu kali ini lebih berserah, berserah tentang definisi kamu yang kini aku tidak tahu.
Mewujudkanmu kali ini lebih berserah, berserah tentang definisi kamu yang kini aku tidak tahu.
Tentang kamu yang tidak pernah aku sangka, kamu yang tidak pernah aku kira, kukira demikian yang akan terjadi.
Hari ini, aku akan menenggelamkan diri dalam tujuanku.
Hari ini, aku akan menenggelamkan diri dalam tujuanku.
Karena, aku masih percaya bahwa tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.
entu bila yang dimaksud dengan kamu sedang menuju tujuan yang sama, kita akan bertemu. Itu keniscayaan.
(MASGUN, RUMAH, 6 FEB 2015)
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.20
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
KAU
Jumat, 08 Mei 2015
dear kau,
kau tau?
Beberapa hari dalam dekade ini nafasku sesak.
Tapi jangan salah, ini bukan karena penyakit pada paru-paru,
Atau penyakit karena perselubungan homogen jika dilihat
dengan rontgen dada.
Tidak sama sekali.
Melainkan karena kekurangan oksigen.
Kau tau kenapa?
Karena oksigen untuk hidup nafasku pun akan ku bagi dua
dengan mu.
Karena oksigen lebih baik menghidupkan mu, daripada
menghidupkan ku.
Juga kau harus tau,
Betapa ku nikmatinya merindu mu.
Bagaikan ku nikmati bau hujan rintik yang menetes
dijalan-jalan
Bagaikan ku nikmati bahagia berbagi makanan bersama dengan
mereka yang tak mampu.
Bagaikan menikmati dekapan angina sepoi yang bisa
menyejukkan hati, kepala, juga raga.
Dirimu semacam kolase kata indah yang sudah lama ku cari.
Yang mungkin dulu bersemayam dilekung langit.
Jika aku nanti menemukan ‘kau’,
Terima kasih,
Bukan karena materi atau beberapa ratus lembar halaman yang
kau bagikan kepadaku,
Tapi atas nyawa,
Yang kau titipkan disela-sela katamu, disela-sela kita.
Lewatnya,
Ada nafas baru,
Dari pedihnya luka cinta masa lalu.
Ternyata benar, jangan berani berpijak di sesuatu yang
retak.
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.02
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
UJIAN
Kamis, 16 April 2015
Bila Engkau mengujiku dengan paras rupawan, maka jadikan mataku memiliki kepekaan untuk bisa melihat yang ada di dalam hati.
Bila Engkau mengujiku dengan suara, maka jadikan telingaku memiliki kepekaan untuk bisa mendengar kebenaran, bukan rayuan.
Bila Engkau mengujiku dengan begitu banyak kebaikannya, maka jadikan hatiku memiliki perasaan yang lurus, Perasaan yang tidak mudah berubah hanya karena kebaikan seseorang.
Bila Engkau mengujiku dengan ketidakpastian, maka jadikan pikiranku jernih untuk segera mengambil keputusan.
Bila Engkau mengujiku dengan banyaknya pilihan, maka jadikah nuraniku mampu mendengar petunjuk-Mu bahwa hanya ada satu yang layak dituju, bukan dipilih,
Bila Engkau mengujiku dengan waktu, maka jadikan kesabaranku memiliki batas yang lebih panjang dari waktu yang Engkau berikan.
Bila Engkau mengujiku dengan kehadirannya, maka jadikan aku orang yang paling sabar menghadapinya.
(masGun-8februari2015)
Bila Engkau mengujiku dengan suara, maka jadikan telingaku memiliki kepekaan untuk bisa mendengar kebenaran, bukan rayuan.
Bila Engkau mengujiku dengan begitu banyak kebaikannya, maka jadikan hatiku memiliki perasaan yang lurus, Perasaan yang tidak mudah berubah hanya karena kebaikan seseorang.
Bila Engkau mengujiku dengan ketidakpastian, maka jadikan pikiranku jernih untuk segera mengambil keputusan.
Bila Engkau mengujiku dengan banyaknya pilihan, maka jadikah nuraniku mampu mendengar petunjuk-Mu bahwa hanya ada satu yang layak dituju, bukan dipilih,
Bila Engkau mengujiku dengan waktu, maka jadikan kesabaranku memiliki batas yang lebih panjang dari waktu yang Engkau berikan.
Bila Engkau mengujiku dengan kehadirannya, maka jadikan aku orang yang paling sabar menghadapinya.
(masGun-8februari2015)
Diposting oleh
gina pangeran
di
11.31
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
DITINGGAL DAN MENINGGALKAN
Selasa, 17 Maret 2015
Ingin skali ku tulis kan beberapa kata untukmu, atau beberapa kalimat,
atau mungkin sebait puisi,tapi tidak tidak, sebuah puisi, hmm atau
sebuah tulisan.
Tulisan indah berisi negeri dongeng di ujung negri sana. Yang isinya tentang rasa cinta seorang putri kerajaan yang sedang menunggu ksatria yang hendak akan berperang.
Semua seperti ingin ku rangkum di kertas putih, dengan goresan tinta warna warni seperti warna warni dalam penantian putri kerajaan.
namun entah mengapa tak bisa ku tuliskan itu semua.
Imajinasi ku terbang melayang bersama perasaan yang penat dan bimbang.
Terlalu banyak yang ingin ku tumpah kan kepada kertas putih ini. Tentangmu. Tentang kita. Tentang jalan yang sudah kita tempuh selama ini. Tentang tangguh mu. Tentang sabarku. Tentang cuekmu. Tentang kebodohan kita. Tent... Ah.. Sudah cukup. Mengingatnya saaja sudah membuat aliran darah ku di pompa begitu cepat oleh jantungku, sehingga dada ini berdebar dengan cepat. Aku rasa bukan aliran darah, mungkin jiwa nafasku ini, seperti selalu tak beraturan jika mengingatmu. Mengingat apapun tentang layar lebar kehidupan kita bersama dulu.
Ingin rasanya ku tunggu kau seribu tahun lagi, tapi sepertinya kau tidak mengharapkan itu.
Kau mematahkan semuanya. Iya, seperti kau mencabut sumbatan bak mandi, seketika air nya tumpah. Padahal kita sudah bersusah payah mengumpul kan air itu. tidak habis fikir diriku yang hina ini.
Semua berlalu seperti anak panah yang diluncurkan para indian indian terdahulu. Sangat cepat. Dan tepat sasaran. Cepat berlalu dan tepat dihati terlukanya. Mungkin hati ini harus kembali aku restorasi lagi. Restorasi sebisaku. Tanpa mu.
Aku ingin berdiri. Berdiri tidak tergoyangkan. Tetap pada titik tumpuanku. Tapi pertanyaannya, dimana harus ku beridiri sekarang? Sudahlah..
Ku ingat sebuah kutipan, "kehidupan memang hanya tentang kisah meninggalkan dan yang ditinggalkan"
Tulisan indah berisi negeri dongeng di ujung negri sana. Yang isinya tentang rasa cinta seorang putri kerajaan yang sedang menunggu ksatria yang hendak akan berperang.
Semua seperti ingin ku rangkum di kertas putih, dengan goresan tinta warna warni seperti warna warni dalam penantian putri kerajaan.
namun entah mengapa tak bisa ku tuliskan itu semua.
Imajinasi ku terbang melayang bersama perasaan yang penat dan bimbang.
Terlalu banyak yang ingin ku tumpah kan kepada kertas putih ini. Tentangmu. Tentang kita. Tentang jalan yang sudah kita tempuh selama ini. Tentang tangguh mu. Tentang sabarku. Tentang cuekmu. Tentang kebodohan kita. Tent... Ah.. Sudah cukup. Mengingatnya saaja sudah membuat aliran darah ku di pompa begitu cepat oleh jantungku, sehingga dada ini berdebar dengan cepat. Aku rasa bukan aliran darah, mungkin jiwa nafasku ini, seperti selalu tak beraturan jika mengingatmu. Mengingat apapun tentang layar lebar kehidupan kita bersama dulu.
Ingin rasanya ku tunggu kau seribu tahun lagi, tapi sepertinya kau tidak mengharapkan itu.
Kau mematahkan semuanya. Iya, seperti kau mencabut sumbatan bak mandi, seketika air nya tumpah. Padahal kita sudah bersusah payah mengumpul kan air itu. tidak habis fikir diriku yang hina ini.
Semua berlalu seperti anak panah yang diluncurkan para indian indian terdahulu. Sangat cepat. Dan tepat sasaran. Cepat berlalu dan tepat dihati terlukanya. Mungkin hati ini harus kembali aku restorasi lagi. Restorasi sebisaku. Tanpa mu.
Aku ingin berdiri. Berdiri tidak tergoyangkan. Tetap pada titik tumpuanku. Tapi pertanyaannya, dimana harus ku beridiri sekarang? Sudahlah..
Ku ingat sebuah kutipan, "kehidupan memang hanya tentang kisah meninggalkan dan yang ditinggalkan"
Diposting oleh
gina pangeran
di
01.40
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
JATUH CINTA DAN BUNUH DIRI.
Aku
menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berucap.
Ketika
mataku telah lelah dan sayu untuk sekedar berkedip dan melihat.
Ketika
jantung dalam keadaan aritmia yang tidak teratur.
Syukur-syukur
jika kau dapat membaca tulisanku ini malam ini, atau tengah malam ini.
Syukur-syukur
jika kau mau membaca tulisanku yang sederhana ini.
Karena
begitu banyak hal yang kita harus kubur sedalam-dalamnya sekarang. jadi aku harus menulis ini dengan mata yang sedikit berkaca, dan ditemani segelas kopi agar tidur tak menghamiri ku ntuk setiap malam bermimpi tentangmu.
Kita
bukan lagi jantung dan paru-paru yang saling melengkapi fungsi utama pemberi
nutrisi pada organ dijasad manusia-manusia menifestasi Tuhan.
Juga
kita bukan lagi seperti hujan dan anak kecil, yang mereka selalu senang jika
hujan turun, apalagi membasahkan diri dibawah hujan adalah suatu kebahagiaan
tersendiri bagi anak-anak.
Cerita
kita telah PATAH.
Tepatnya
“beberapa kali”. Dan ini adalah kesalahan.
Kesalahan
terbesar yang membiarkan cerita kita patah “beberapa kali”.
Harusnya
cerita kita hanya perlu patah satu kali saja, tidak perlu ada kata “mencoba”
lagi. Maka tidak akan ada kata “beberapa
kali”.
Seharusnya
demikian, harusnya tidakku berikan kesempatan hatiku untuk masuk mencoba
mengukir cerita dan kisah di hati mu yang seperti daun rapuh.
Daun
yang tidak kuat menahan tekanan dari ujung tajam pensil kisah. Yang akhirnya ketika pengukiran, daunnya
begitu cepat belubang dimana-mana.
Bukan
hanya itu, daun disana juga terlalu gampang di bawa oleh angin. Terbang kekiri,
kekanan, bahkan mundur sekalipun. Daunnya tidak bisa untuk mutlak tetap tinggal
di satu ranting pohon.
Namun
tenang saja, ini bukan kesalahan mu sebagai daun-daun yang telah memberi
kesejukan dipohon-pohon kering dalam hati ini. Ini murni kesalahanku. Andai saja
aku sadar bahwa anggapanmu tentangku adalah wanita yang menjadi
penghambat segala kegiatan mu, akademismu, dan lain hal tentang kehidupanmu,
mungkin harusnya kau tau, aku bukan seperti demikian.
Disini
aku berdiri tulus mengenggam segala kelebihanmu, berdiri kuat untuk memeluk
segala kekuranganmu.
Didekatmu
aku duduk manis dibawah pohon menantimu, mendengarkan dengan gembira segala
kisah mu.
Didepanmu
aku selalu tersenyum menatap mu, segala letih teredamkan dengan lesung yang terlukis dipipimu.
Dibelakangmu......
ah.. sudahlah.. tak perlu dilanjutkan.
Perasaan
bukan hanya sekedar kata atau kalimat narasi ini.
Dan
sekarang, disini aku berdiri. Tanpa kau. Disampingku. Didepanku. Dibelakangku. Dan
dihatiku.
Apakah
aku melupakanmu? Tenang, setiap kenangan kita teratur disisi-sisi museum kenangan.
Akan ku pastikan tidak akan ada yang menggesernya hingga ku temukan orang yang
tepat untuk bersama-sama ku ceritakan bagaimana usaha dan perjuanganku untukmu,
dan dia mau menerima ku atas kesalahan ku terhadap mu. Kesalahan yang
menjadikan kita harus mengeluarkan kata “beberapa kali”.
Tenang
saja, aku masih jatuh cinta padamu. Tapi apakau tau? 2015 saat ini mempunyai
cara terbaru untuk bunuh diri. Yaitu dengan jatuh cinta. Karena aku jatuh
terhadapmu, artinya memberikan peluang sebesar-besarnya untuk mu membunuhku. tapi
tidak perlu khawatir, sebelum jatuh aku tlah memakai air bag di sisi tubuh ku,
hingga tidak ada lagi yang dapat membuatku merintih kesakitan karena ulahku
yang menjatuh diri dikehidupanmu. Namun sepertinya, alatku tidak bekerja dengan
baik. Air bagku tak berfungsi karena cinta. karena mu. karena lesung pipimu. karena makna hadirmu. Aku tepat jatuh terkikis oleh tanah dan batu. Hingga
saat ini, aku harus berani untuk secepatnya memperbaharui sel-sel hati untuk
jatuh di tempat yang tepat.
Kalau
dicerita sebelah, katanya diriku seperti kompas orientering yang hilang arah
karenamu, saat ini aku nyatakan diriku layak orang yang bermimpi siang bolong.
Kita
yang begitu sangat sangat terbiasa akan kebersamaan, tiba-tiba kini harus
mengecap rasa jalan bersimpangan.
Pada awalnya, aku merasa mencintaimu adalah sebuah
kewajaran. Lagipula, sebagai leader, kau teramat mudah untuk dicinta. Namun, ketika ruang dan waktu
mempertemukan kita dalam rangkaian-rangkaian peristiwa memalukan (tapi juga
indah), peristiwa yang membuat hati bagai tenggelam didalam lautan luas yag
sepi dan dingin, peristiwa yang membuat pita suara kita bersama berseru saling
memaki, peristiwa yang membuat kita saling melemparkan pandangan mencari orang
lain dimasa lalumu sebagai pelarian, aku mulai ragu. Benarkah mencintaimu sebuah kewajaran?
Lalu bagaimana jika sekarang aku ingin kau menjadi milikku
seutuhnya? Salahkah aku bila terlalu berharap mendapatkan cintamu?
Jika itu memang pertanyaan hatiku, maka akal ku akan
menjawab. Tidak.
Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan
berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa.
Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirimu sepanjang waktu.
Karenamu, aku jadi ingin mengulang waktu.
Dan sekarang aku haru berdiri, menegaskan “beberapa
kali” tidak akan lagi terjadi. Aku percaya, ditempat yang tepat, diwaktu yang
tepat, dengan orang yang tepat. Kepompong ku akan menjadi kupu-kupu indah. Yang
akan terbang ke taman-taman menghiasi bunga-bunga taman dunia. Hingga dunia
ini, duniaku tidak lagi dipenuhi siluet sandiwara ketika bersamamu.
Diposting oleh
gina pangeran
di
01.30
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Untuk awal cerita, Awal luka, dan Awal restorasi hati.
Rabu, 18 Februari 2015
sudut kanan belakang
Aku
berusaha untuk tetap menahan air yang ada di mataku ini. Ku temukan
celah diantara kursi-kursi, dan segera berlari meninggalkan gedung ini.
Aku berlari sekencang-kencangnya, berusaha untuk tidak menatap dua sosok
yang tengah duduk disudut kanan belakang. Aku terus berlari
tergopoh-gopoh, berharap tidak ada darah yang mengalir kemudian
tersembur keluar dari dada. Dengan segera aku masuk ke kendaraan ku.
Duduk dan kemudian ku pukul benda berbentuk bulat sebagai alat untuk
membelokkan kendaraan itu, sebagai wujud kekesalan dan penghilang rasa
sakit didada. Malam ini benar-benar terasa berbeda. Kebenaran dengan
sendirinya muncul kepermukaan. Hati ini seperti dijatuhi 5 atau 10 truk
sampah. Yang berbau busuk, bermassa berat, dan berbadan besar. Membuat
semuanya hancur, tanpa sisa. Bahkan sedikit aroma kebahagiaanpun tidak
ada tersisa. Yang ada hanya kepingan pecahan hati, dengan aroma
kesakitan.
Kau yang dulu selalu menemaniku ketika malam tiba dengan candaan mesra mu melalui benda putih blackberry mu itu.
Kau selalu bertanya apa yang sedang ku lakukan?
Sedang dimana aku?
Dengan siapa aku?
Apa kabarku?
Jika tak ada kabar ku seharian, kau selalu mengirimkan pesang singkat seperti ini,
"Hmm.. Seharian ini tidak ada kabarnya",
Genggaman jemarimu selalu membuatku terbang ke langit nirwana.
Perhatian-perhatian kecilmu terselip di antara serangkaian pesan singkatmu,
"Hati-hati dijalan ya"
"Jangan lupa makan"
"Knp telfon ku tidak di angkat? Kamu baik-baik saja kan?"
"Jangan terlalu letih, istirahat sekarang"
"Cepat sembuh yah. Aku merindukanmu"
"Jangan suka jalan sendiri tengah malam"
"kabari ya kalau sudah sampai dirumah"
"Selamat malam. Mimpi indah"
"Tidak usah keluar. Besok mau ujian kan? Istirahat dan belajar ya"
Memang sederhana. Cukup sederhana. Tapi perhatian mu itu membuat ku selalu berfikir bahwa kau mempunyai perasaan terhadapku. Ditambah dengan emotion pelukan dan kecupan yang ada dipesan singkatmu. Walau sekedar emotion, tapi ku selalu bahagia melihatnya. Bahkan membaca nya berulang kalipun aku tak bosan-bosan.
Dewi cinta telah menembakkan busur nya berpuluh-puluh dan tepat pas didadaku. Membuatku begitu jatuh terhadapmu. Sosok dengan senyuman termanis. Dengan lesung pipimu, dengan alis mu, dengan kulit coklatmu, dan dengan... Matamu.
Kalau difikir-fikir, detik apa yang kita tidak lewatkan bersama?
Ketika aku letih dengan kenyataan hidup, kau selalu berdiri disampingku, memelukku, dan menenangkan ku. Membuatku selalu merasa aman. Merasa bahwa akulah orang yang paling beruntung karena bisa membuat mu keluar dari masa lalumu itu.
suatu ketika, ku buka benda putih blackberrymu itu, benda yang selalu kau pakai untuk menghubungiku. Ku buka perlahan. Ku masuki menu demi menu.
Kuperbesar foto itu, terlihat perempuan yang sedang tersenyum manis. Giginya terlihat rapi. Hidungnya mancung. Kulitnya putih. Memakai hijab. Gallery fotomu penuh dengan foto perempuan itu. Tapi perempuan itu bukan aku.
Ku buka inbox mu, ternyata yang ada hanya pesan singkat dari seorang perempuan. pesan singkat yang mesra, dan penuh canda. Ternyata perempuan itu bukan aku lagi.
Ada foto pesan singkatmu dengan seseorang pria. Yang isinya seperti orang yang tengah sedang mencari jalan untuk kembali terhadap teman sii pria itu. Dan sekali lagi, pria itu bukan temanku. Melainkan teman perempuan itu.
Sontak kakiku bergetar. Tanganku bergetar. Seperti tengah dipukul oleh palu besar. Sakitnya tiada ampun. Mengalir ke mata hingga membuat air mata berlomba untuk keluar.
Ku maafkan kejadian itu. Ku tenangkan diriku. Ku mengerti kau lagi.
Aku harus jadi perempuan yang berfikir positif. Aku yakin, itu hanya bayangan masa lalunya. Kau dan aku pasti akan menjadi KITA. Dan ku percaya itu. Ku hapus hari itu. Ku bangun kembali hatiku. Hingga kau dan aku melewati malam dengan canda tawa lagi. Walaupun dengan hatiku yang telah terjahit dengan 20 jahitan.
Namun malam ini, kau membuka jahitan itu. Kau, iya kau Tuan! Tuan kekasihku yang belum sempat kumiliki.
Kau membawanya. Kau membawa perempuan itu. Tepat dihadapan mataku. Tepat diacaraku. Acara ini.
Kau bersamanya, datang dengan baju kemeja hitam mu. Tapi, hei lihat, kenapa mata mu tampak sayu? Seharusnya kau istirahat. Aku lupa, kau membawanya. Obatmu. Perempuanmu. Yang menghilangkan dengan alami segala letihmu. Yang fotonya ada di gallery benda blackberry mu. Yang pesang singkatnya ada di inboxmu. Yang kau cari jalan kembali bersama dia.
Perempuan yang sempurna. Ya tentu saja dia sempurna, kalau ia tak sempurna, tidak mungkin kau menjadikan ia perempuan pilihanmu.
Malam ini tanggal 25 Mei.
Dan terakhir kita bertemu adalah malam tanggal 24 Mei!
namun menualitkan, kita bertemu malam ini dengan keadaan Kau membawa perempuan itu. Bersama. Berdua. Dan duduk di sudut kanan belakang.
Ingin rasanya aku pergi ke sudut kanan belakang dan bertanya kepadamu,
Apa maksud semua ini, Tuan?
Apa salahku tehadapmu? sampai kau menghempaskanku sekeji ini. Kau membuat semuanya hancur Tuan. Hatiku di nirwana sana, kau jatuhkan dengan cepat, secepat kecepatan cahaya. Terjatuh dibumi tidak tersisa. Hanya ada kepingan hati yang melukai seluruh jasadku. Sekarang hati ku bagai kompas orientering yang kehilangan arahnya. Bagai anak yang kucing yang kehilangan induknya. Bagai jangka yang tak mempunyai jarum, hingga tak bisa membuat bukatan yang sempurna.
Tapi ku tahu, aku dan kau belum menjadi kita. Sehingga aku tidak punya hak untuk itu. Kau memang pandai Tuan, pandai menenggelamkan ku di lautan luas yang mengapung tanpa kejelasan.
Aku pergi dari tempat seminar. Tidak ada kesedihan diatas kesedihan malam ini. berharap esok aku bisa berkonspirasi dengan alam untuk melupakanmu.Walau siluetmu selalu menghasut pikiranku. Ku biarkan kau terbang melayang menjauh. Dan diriku tetap dalam keadaan merestorasi hatiku kembali dalam kesendirian.
Disini tidak akan ku temui orang seppertimu lagi. Yang berkata cinta dengan mudah. Yang berapologi dengan hebatnya. Dan begonta-ganti topeng sesukanya. Serta beretorika dengan semaunya.
Kau yang dulu selalu menemaniku ketika malam tiba dengan candaan mesra mu melalui benda putih blackberry mu itu.
Kau selalu bertanya apa yang sedang ku lakukan?
Sedang dimana aku?
Dengan siapa aku?
Apa kabarku?
Jika tak ada kabar ku seharian, kau selalu mengirimkan pesang singkat seperti ini,
"Hmm.. Seharian ini tidak ada kabarnya",
Genggaman jemarimu selalu membuatku terbang ke langit nirwana.
Perhatian-perhatian kecilmu terselip di antara serangkaian pesan singkatmu,
"Hati-hati dijalan ya"
"Jangan lupa makan"
"Knp telfon ku tidak di angkat? Kamu baik-baik saja kan?"
"Jangan terlalu letih, istirahat sekarang"
"Cepat sembuh yah. Aku merindukanmu"
"Jangan suka jalan sendiri tengah malam"
"kabari ya kalau sudah sampai dirumah"
"Selamat malam. Mimpi indah"
"Tidak usah keluar. Besok mau ujian kan? Istirahat dan belajar ya"
Memang sederhana. Cukup sederhana. Tapi perhatian mu itu membuat ku selalu berfikir bahwa kau mempunyai perasaan terhadapku. Ditambah dengan emotion pelukan dan kecupan yang ada dipesan singkatmu. Walau sekedar emotion, tapi ku selalu bahagia melihatnya. Bahkan membaca nya berulang kalipun aku tak bosan-bosan.
Dewi cinta telah menembakkan busur nya berpuluh-puluh dan tepat pas didadaku. Membuatku begitu jatuh terhadapmu. Sosok dengan senyuman termanis. Dengan lesung pipimu, dengan alis mu, dengan kulit coklatmu, dan dengan... Matamu.
Kalau difikir-fikir, detik apa yang kita tidak lewatkan bersama?
Ketika aku letih dengan kenyataan hidup, kau selalu berdiri disampingku, memelukku, dan menenangkan ku. Membuatku selalu merasa aman. Merasa bahwa akulah orang yang paling beruntung karena bisa membuat mu keluar dari masa lalumu itu.
suatu ketika, ku buka benda putih blackberrymu itu, benda yang selalu kau pakai untuk menghubungiku. Ku buka perlahan. Ku masuki menu demi menu.
Kuperbesar foto itu, terlihat perempuan yang sedang tersenyum manis. Giginya terlihat rapi. Hidungnya mancung. Kulitnya putih. Memakai hijab. Gallery fotomu penuh dengan foto perempuan itu. Tapi perempuan itu bukan aku.
Ku buka inbox mu, ternyata yang ada hanya pesan singkat dari seorang perempuan. pesan singkat yang mesra, dan penuh canda. Ternyata perempuan itu bukan aku lagi.
Ada foto pesan singkatmu dengan seseorang pria. Yang isinya seperti orang yang tengah sedang mencari jalan untuk kembali terhadap teman sii pria itu. Dan sekali lagi, pria itu bukan temanku. Melainkan teman perempuan itu.
Sontak kakiku bergetar. Tanganku bergetar. Seperti tengah dipukul oleh palu besar. Sakitnya tiada ampun. Mengalir ke mata hingga membuat air mata berlomba untuk keluar.
Ku maafkan kejadian itu. Ku tenangkan diriku. Ku mengerti kau lagi.
Aku harus jadi perempuan yang berfikir positif. Aku yakin, itu hanya bayangan masa lalunya. Kau dan aku pasti akan menjadi KITA. Dan ku percaya itu. Ku hapus hari itu. Ku bangun kembali hatiku. Hingga kau dan aku melewati malam dengan canda tawa lagi. Walaupun dengan hatiku yang telah terjahit dengan 20 jahitan.
Namun malam ini, kau membuka jahitan itu. Kau, iya kau Tuan! Tuan kekasihku yang belum sempat kumiliki.
Kau membawanya. Kau membawa perempuan itu. Tepat dihadapan mataku. Tepat diacaraku. Acara ini.
Kau bersamanya, datang dengan baju kemeja hitam mu. Tapi, hei lihat, kenapa mata mu tampak sayu? Seharusnya kau istirahat. Aku lupa, kau membawanya. Obatmu. Perempuanmu. Yang menghilangkan dengan alami segala letihmu. Yang fotonya ada di gallery benda blackberry mu. Yang pesang singkatnya ada di inboxmu. Yang kau cari jalan kembali bersama dia.
Perempuan yang sempurna. Ya tentu saja dia sempurna, kalau ia tak sempurna, tidak mungkin kau menjadikan ia perempuan pilihanmu.
Malam ini tanggal 25 Mei.
Dan terakhir kita bertemu adalah malam tanggal 24 Mei!
namun menualitkan, kita bertemu malam ini dengan keadaan Kau membawa perempuan itu. Bersama. Berdua. Dan duduk di sudut kanan belakang.
Ingin rasanya aku pergi ke sudut kanan belakang dan bertanya kepadamu,
Apa maksud semua ini, Tuan?
Apa salahku tehadapmu? sampai kau menghempaskanku sekeji ini. Kau membuat semuanya hancur Tuan. Hatiku di nirwana sana, kau jatuhkan dengan cepat, secepat kecepatan cahaya. Terjatuh dibumi tidak tersisa. Hanya ada kepingan hati yang melukai seluruh jasadku. Sekarang hati ku bagai kompas orientering yang kehilangan arahnya. Bagai anak yang kucing yang kehilangan induknya. Bagai jangka yang tak mempunyai jarum, hingga tak bisa membuat bukatan yang sempurna.
Tapi ku tahu, aku dan kau belum menjadi kita. Sehingga aku tidak punya hak untuk itu. Kau memang pandai Tuan, pandai menenggelamkan ku di lautan luas yang mengapung tanpa kejelasan.
Aku pergi dari tempat seminar. Tidak ada kesedihan diatas kesedihan malam ini. berharap esok aku bisa berkonspirasi dengan alam untuk melupakanmu.Walau siluetmu selalu menghasut pikiranku. Ku biarkan kau terbang melayang menjauh. Dan diriku tetap dalam keadaan merestorasi hatiku kembali dalam kesendirian.
Disini tidak akan ku temui orang seppertimu lagi. Yang berkata cinta dengan mudah. Yang berapologi dengan hebatnya. Dan begonta-ganti topeng sesukanya. Serta beretorika dengan semaunya.
Diposting oleh
gina pangeran
di
06.09
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Komentar (Atom)
