Untuk awal cerita, Awal luka, dan Awal restorasi hati.

Rabu, 18 Februari 2015

Aku berusaha untuk tetap menahan air yang ada di mataku ini. Ku temukan celah diantara kursi-kursi, dan segera berlari meninggalkan gedung ini. Aku berlari sekencang-kencangnya, berusaha untuk tidak menatap dua sosok yang tengah duduk disudut kanan belakang. Aku terus berlari tergopoh-gopoh, berharap tidak ada darah yang mengalir kemudian tersembur keluar dari dada. Dengan segera aku masuk ke kendaraan ku. Duduk dan kemudian ku pukul benda berbentuk bulat sebagai alat untuk membelokkan kendaraan itu, sebagai wujud kekesalan dan penghilang rasa sakit didada. Malam ini benar-benar terasa berbeda. Kebenaran dengan sendirinya muncul kepermukaan. Hati ini seperti dijatuhi 5 atau 10 truk sampah. Yang berbau busuk, bermassa berat, dan berbadan besar. Membuat semuanya hancur, tanpa sisa. Bahkan sedikit aroma kebahagiaanpun tidak ada tersisa. Yang ada hanya kepingan pecahan hati, dengan aroma kesakitan.

Kau yang dulu selalu menemaniku ketika malam tiba dengan candaan mesra mu melalui benda putih blackberry mu itu.
Kau selalu bertanya apa yang sedang ku lakukan?
Sedang dimana aku?
Dengan siapa aku?
Apa kabarku?
Jika tak ada kabar ku seharian, kau selalu mengirimkan pesang singkat seperti ini,
"Hmm.. Seharian ini tidak ada kabarnya",
Genggaman jemarimu selalu membuatku terbang ke langit nirwana.
Perhatian-perhatian kecilmu terselip di antara serangkaian pesan singkatmu,
"Hati-hati dijalan ya"
"Jangan lupa makan"
"Knp telfon ku tidak di angkat? Kamu baik-baik saja kan?"
"Jangan terlalu letih, istirahat sekarang"
"Cepat sembuh yah. Aku merindukanmu"
"Jangan suka jalan sendiri tengah malam"
"kabari ya kalau sudah sampai dirumah"
"Selamat malam. Mimpi indah"
"Tidak usah keluar. Besok mau ujian kan? Istirahat dan belajar ya"
Memang sederhana. Cukup sederhana. Tapi perhatian mu itu membuat ku selalu berfikir bahwa kau mempunyai perasaan terhadapku. Ditambah dengan emotion pelukan dan kecupan yang ada dipesan singkatmu. Walau sekedar emotion, tapi ku selalu bahagia melihatnya. Bahkan membaca nya berulang kalipun aku tak bosan-bosan.
Dewi cinta telah menembakkan busur nya berpuluh-puluh dan tepat pas didadaku. Membuatku begitu jatuh terhadapmu. Sosok dengan senyuman termanis. Dengan lesung pipimu, dengan alis mu, dengan kulit coklatmu, dan dengan... Matamu.
Kalau difikir-fikir, detik apa yang kita tidak lewatkan bersama?
Ketika aku letih dengan kenyataan hidup, kau selalu berdiri disampingku, memelukku, dan menenangkan ku. Membuatku selalu merasa aman. Merasa bahwa akulah orang yang paling beruntung karena bisa membuat mu keluar dari masa lalumu itu.

suatu ketika, ku buka benda putih blackberrymu itu, benda yang selalu kau pakai untuk menghubungiku. Ku buka perlahan. Ku masuki menu demi menu.
Kuperbesar foto itu, terlihat perempuan yang sedang tersenyum manis. Giginya terlihat rapi. Hidungnya mancung. Kulitnya putih. Memakai hijab. Gallery fotomu penuh dengan foto perempuan itu. Tapi perempuan itu bukan aku.
Ku buka inbox mu, ternyata yang ada hanya pesan singkat dari seorang perempuan. pesan singkat yang mesra, dan penuh canda. Ternyata perempuan itu bukan aku lagi.
Ada foto pesan singkatmu dengan seseorang pria. Yang isinya seperti orang yang tengah sedang mencari jalan untuk kembali terhadap teman sii pria itu. Dan sekali lagi, pria itu bukan temanku. Melainkan teman perempuan itu.
Sontak kakiku bergetar. Tanganku bergetar. Seperti tengah dipukul oleh palu besar. Sakitnya tiada ampun. Mengalir ke mata hingga membuat air mata berlomba untuk keluar.
Ku maafkan kejadian itu. Ku tenangkan diriku. Ku mengerti kau lagi.
Aku harus jadi perempuan yang berfikir positif. Aku yakin, itu hanya bayangan masa lalunya. Kau dan aku pasti akan menjadi KITA. Dan ku percaya itu. Ku hapus hari itu. Ku bangun kembali hatiku. Hingga kau dan aku melewati malam dengan canda tawa lagi. Walaupun dengan hatiku yang telah terjahit dengan 20 jahitan.

Namun malam ini, kau membuka jahitan itu. Kau, iya kau Tuan! Tuan kekasihku yang belum sempat kumiliki.
Kau membawanya. Kau membawa perempuan itu. Tepat dihadapan mataku. Tepat diacaraku. Acara ini.
Kau bersamanya, datang dengan baju kemeja hitam mu. Tapi, hei lihat, kenapa mata mu tampak sayu? Seharusnya kau istirahat. Aku lupa, kau membawanya. Obatmu. Perempuanmu. Yang menghilangkan dengan alami segala letihmu. Yang fotonya ada di gallery benda blackberry mu. Yang pesang singkatnya ada di inboxmu. Yang kau cari jalan kembali bersama dia.
Perempuan yang sempurna. Ya tentu saja dia sempurna, kalau ia tak sempurna, tidak mungkin kau menjadikan ia perempuan pilihanmu.
Malam ini tanggal 25 Mei.
Dan terakhir kita bertemu adalah malam tanggal 24 Mei!
namun menualitkan, kita bertemu malam ini dengan keadaan Kau membawa perempuan itu. Bersama. Berdua. Dan duduk di sudut kanan belakang.
Ingin rasanya aku pergi ke sudut kanan belakang dan bertanya kepadamu,
Apa maksud semua ini, Tuan?
Apa salahku tehadapmu? sampai kau menghempaskanku sekeji ini. Kau membuat semuanya hancur Tuan. Hatiku di nirwana sana, kau jatuhkan dengan cepat, secepat kecepatan cahaya. Terjatuh dibumi tidak tersisa. Hanya ada kepingan hati yang melukai seluruh jasadku. Sekarang hati ku bagai kompas orientering yang kehilangan arahnya. Bagai anak yang kucing yang kehilangan induknya. Bagai jangka yang tak mempunyai jarum, hingga tak bisa membuat bukatan yang sempurna.
Tapi ku tahu, aku dan kau belum menjadi kita. Sehingga aku tidak punya hak untuk itu. Kau memang pandai Tuan, pandai menenggelamkan ku di lautan luas yang mengapung tanpa kejelasan.
Aku pergi dari tempat seminar. Tidak ada kesedihan diatas kesedihan malam ini. berharap esok aku bisa berkonspirasi dengan alam untuk melupakanmu.Walau siluetmu selalu menghasut pikiranku. Ku biarkan kau terbang melayang menjauh. Dan diriku tetap dalam keadaan merestorasi hatiku kembali dalam kesendirian.
Disini tidak akan ku temui orang seppertimu lagi. Yang berkata cinta dengan mudah. Yang berapologi dengan hebatnya. Dan begonta-ganti topeng sesukanya. Serta beretorika dengan semaunya.

0 komentar:

Posting Komentar