Karena dengan merasakan sakit, menjadi penanda bahwa dirimu masih hidup.

Selasa, 16 Agustus 2016

Saya sih bukan tipe penyuka drama korea, apalagi sampai hanyut meng-idolakan para pemainnya. Tetapi, tadi iseng-iseng nonton salah satu drama korea. Ternyata saya baru sadar (entah penyadaran saya ini terlambat atau hanya saya yang merasakannya) bahwa dalam drama ini bukan hanya soal wajah tampan si aktor atau tubuh seksi si aktris, tetapi.... Banyak makna hidup disana, disetiap kalimat dalam dialog membuat banyak pelajaran dan bahan refleksi diri.

Contohnya saja salah satu drama yang saya tonton hari ini (yang tentunya membuang waktu saya begitu lama, tetapi saya tidak menyesal) dimana begitu banyak sarat akan makna tentang,
banyak orang yang mengesampingkan namanya cinta (cinta kepada keluarga, sahabat, dan pasangan) diatas namakan dengan pekerjaan. Banyak orang berpikir bahwa dirinya sibuk dengan pekerjaan, dan pekerjaan lah paling penting. Mereka berpikir bahwa untuk urusan cinta adalah urusan belakangan, urusan bisa di atur dilain waktu, urusan dapat di tunda di waktu berikutnya. Tetapi, tidak. Ambisi mu akan mengalahkan emosimu. Emosimu akan memainkan peran tingkahmu. Dan disitulah dirimu akan menjadi seorang yang serakah atau bahkan dalam drama tersebut menyebutkan menjadi seorang monster. Letak cinta dalam menggunting antara emosi dan ambisi tidak ada lagi, sehingga emosi memegang peran andil terhadap ego ego seseorang. Itulah sebabnya, banyak orang yang memiliki banyak rekan kerja, tetapi tidak memiliki teman atau sahabat. Memiliki banyak pertemuan, tetapi tidak pernah ditemukan. Bercinta dimana mana, tetapi tidak mencintai. Dan banyak hal lain yang terlihat seperti fatamorgana. Seakan ada, tetapi sebenarnya tidak. Ilusi optik yang diciptakan panca indera yang banyak orang tidak sadar akan hal tersebut. Seakan mereka memiliki kuasa dengan pencapaian hasil pekerjaannya, tetapi ternyata orang yang mencintainya tidak pernah bahagia. Ternyata, disinilah saya belajar. Ambisi dan mimpi adalah tujuan. Tetapi tujuan tidak akan berarti jika jalan yang kau tempuh hanya menjadi jalan maut untuk orang yang mencintaimu. Mulai sekarang, ayo kawan, meraih mimpi dengan tidak melupakan cinta (garis bawah ya, cinta disini adalah cinta untuk keluarga, teman, Tuhan, pasangan, juga kerabat), persoalan berhasil atau tidak mimpi dan ambisimu, biar menjadi takdir maha kuasa. Yang ter penting kita tidak kehilangan cinta orang orang yang tulus untuk kita. Mari mengatur hidup dengan lebih baik. Sempatkan lah menanyakan kabar orang yang mencintaimu. Karena, sibuk itu tidak ada. Yang ada hanya penentuan prioritas.

Setelah dirimu telah menjaga cinta mu, dan tetap berjalan beriringan dengannya, pasti dirimu akan menerima guncangan hebat. Jalan yang berbatu membuat mu sakit diperjalanan. Jalan yang menanjak membuat mu lesu di perjalanan. Jalan yang berliku membuat mu kecewa di perjalanan. Tetapi, jangan menyerah dengan rasa sakit. Rasa sakit, kecewa, lesu, dan sebagainya harus tetap disyukuri. Karena, dengan merasakan sakit, penanda bahwa diri kita masih hidup. Masih merasakan. Mencobalah menghargai makna bafas yang diberikan kepada kita, dengan menghargai segala perasaan yang ada yang datang. Bahagia atau sakit, senang atau luka, itulah penanda bahwa kita masih didunia, bernafas, dengan jantung yang berdetak. Cobalah datang ke rumah sakit, lihat beberapa pasien, dan tengok betapa tulus nya mereka berdoa agar tetap hidup. Maka, bersyukurlah! Karena apapun perasaan kita saat ini, menandakan indera perasa kita masih berfungsi, kita masih hidup.
Karena bahagia akan segera pergi, begitu juga dengan kesedihan. Kesedihan akan segera pergi. Maka,
Akhir kata, jangan pernah tinggalkan cinta, sesakit apapun, menandakan kita masih hidup. Karena dengan hidup, kita bisa melihat kesedihan digantikan dengan kebahagiaan.

Yap, cukup sekian review drama korea kali ini. Maafkan saya jika mengambil sudut pandang berbeda dari anak muda jaman sekarang. Saya bukan mengulas tentang bagaimana romantis nya si aktor terhadap si aktris, atau mengulas tentang seberapa tampan/cantik mereka.

Mari membaca, mari menonton, mari memberi manfaat.

(c) rumah, 16 Agustus 2016.

0 komentar:

Posting Komentar